Potret Alam
Kabut yang menyerang hutan.
Potret Alam
Penyerangan masih berlanjut.
Potret Alam
Pohon-pohon juga terserang.
Potret Alam
Jalan menjadi berselimut kabut.
Potret Alam
Hutan kian berkabut tebal.
Tuesday, 23 December 2014
Thursday, 27 November 2014
Paedahipun Mata Kuliah Retorika Jawa Wonten Masyarakat
Paedahipun
Mata Kuliah Retorika Jawa Wonten
Masyarakat
Retorika,
inggih menika ngelmu babagan olah swara, raga, lan busana, miwah basa lan
sastra. Utawi saged dipunsebat ngelmu pambiwara. Pambiwara inggih menika tiyang
utawi priyantun ingkang tinanggenah ngendhaleni utawi mranata lumampahing
adicara utawi pepanggihan saha amarsudi murih lumampahing pawiwahan utawi
pahargyan saged rancag saha runtut1. Retorika Jawa menika ngginaaken
basa Jawa ingkang sae. Ing semester gangsal menika, wonten mata kuliah retorika
Jawa. Tujuwanipun mata kuliah retorika Jawa inggih menika para maha-siswa
sastra Jawa gadhah ilmunipun adiwicara.
Paedahipun
mata kuliah menika wonten masyarakat, saged masyarakat dhusun utawi kitha ugi
kathah sanget. Ingkang kaping setunggal menawi wonten acara adat. Acara adat
menika cacahipun kathah. Menawi wonten tiyang ingkang kagungan kersa pawiwahan
penganten, kita saged dados pambiwara. Lajeng tiyang ingkang kagungan kersa
menika boten repot anggenipun madosi pambiwara ingkang sanes. Pramila kita
saged mbiyantu tiyang ingkang kagungan kersa dados pambiwaranipun.
Ingkang
kaping kalih, menawi wonten acara sepasaran bayi, tiyang ingkang saged dados
pambiwara inggih menika migunani sanget. Menawi sampun ngertos ngelmunipun
adicara, kita saged tulung-tinulung marang tiyang sanes ingkang kagungan kersa.
Lajeng acara kadosta pangaosan, sarasehan, kempalan RT/RW, utawi pengetan 17
Agustus menika migunaaken pambiwara.
Ingkang
kaping tiga, ngelmu pambiwara menika ugi saged kita ginaaken menawi pidhato
wonten ngajeng. Salah sawijining tuladha, menawi kita dipundhapuk dados
pengurus, pangarsa, ta’mir masjid, ngantos dinten-dinten ingkang dipunpengeti
kadosta dinten Kartini, dinten kamardhikan NKRI, lan sapanunggalipun.
Ugi
taksih kathah sanget ginanipun mata kuliah retorika Jawa wonten masyarakat.
Mangga kita sedaya nguri-uri budaya Jawi ingkang endah menika ngantos benjang.
Matur nuwun.
1. Drs.
Imam Sutardjo, M.Hum, Pidhato Basa Jawi.,
hlm. 15
Galeri Foto Reog Anak di Kota Solo
Galeri Foto Reog Anak di Kota Solo
Setelah sekian lamanya tidak melihat anak-anak yang menarikan seni Reog, akhirnya inilah yang kutemukan di kota Solo.
Setelah sekian lamanya tidak melihat anak-anak yang menarikan seni Reog, akhirnya inilah yang kutemukan di kota Solo.
Bersambung >>>
Sunday, 16 November 2014
Pangkur Kempalan RT
Pangkur Kempalan RT
Sugeng dalu para warga
Kakung putri ingkang kula bekteni
Sugeng rawuh kang kinatur
Ing kempalan punika
Mugya para warga tansah guyun rukun
Tansah pinaringan berkah
Berkahipun Sang Hyang Widhi
Solo, 17 November 2014
Aku, Desa, dan Kota
Aku, Desa, dan Kota
Deru musik jalanan jadi saksi
Saksi dua tahun kuhidup di sini
Hidup dalam untaian pelangi kota
Hawa kota dengan aneka warnanya
Beraneka warna kesedihan dan kesenangan
Kesedihan dan kesenangan berbalut dalam jutaan rasa
Sungguh perih rasanya hatiku
Seolah hati ini ingin katakan ‘tuk pulang
Pulang ke desa tempatku berasal
Desa yang sejuk nan segar sepanjang masa
Kesejukan surga yang tersinar di sana
Tersinar kenangan yang timbulkan kerinduan
Kurindu desaku yang tercinta
Solo, 7-16 November 2014
Sinopsis Dan Relevansi Lakon Wayang “Sang Bratasena” Dengan Zaman Sekarang
Sinopsis Dan Relevansi Lakon Wayang “Sang
Bratasena” Dengan Zaman Sekarang
Mata Kuliah Telaah Drama
Mata Kuliah Telaah Drama
Oleh :
Henri Firmansah (C0112022)
PROGRAM
STUDI SASTRA DAERAH
FAKULTAS
SASTRA DAN SENI RUPA
UNIVERSITAS
SEBELAS MARET
SURAKARTA
2014
Sinopsis dan Relevansi Lakon Wayang “Sang Bratasena” dengan Zaman
Sekarang
a. Judul/Lakon
wayang : “Sang Bratasena”
b. Dalang
: Drs.Imam
Sutarjo, M.Hum
c.
Waktu/Tempat : 31 November 2014/ RRI Surakarta
Sinopsis
Ibu para Pandawa, Dewi Kunti melahirkan anak keduanya
yang berupa jabang bayi yang terbungkus. Namun selama empat tahun lamanya si
bayi belum keluar juga. Di kayangan, Batara Narada berbicara dengan Batara
Bayu. Batara Narada menyuruh Batara Bayu untuk turun ke dunia dan memberikan
anugerah kekuatan kepada si bayi bungkus tersebut. Lalu anak itu punya nama
Bayusiwi yang berarti anaknya Bayu. Batari Durga, ratu segala setan, berusaha
untuk membunuh Bayusiwi tetapi malah terpukul oleh kekuatan luar biasa darinya.
Di tempat lain Batara Narada menemui Gajah Sena yang sedang
bertapa. Ia bernama Gajah Sena. Narada memberi petunjuk kepada Gajah Sena untuk
memecah Bayusiwi yang masih terbungkus. Gajah Sena pun kemudian mencoba untuk
memecahnya. Setelah berkali-kali diseru-duk akhirnya pecah juga bungkus
tersebut dan muncullah pemuda gagah perkasa. Sang pemuda yang merasa sakit
karena diseruduk lalu membalas perbuatan dari Gajah Sena. Gajah Sena pun kalah
dan sukmanya masuk ke dalam tubuh Bayusiwi. Bayusiwi kebingungan, lalu Batara
Nara-da menceritakan asal usulnya dan sang pemuda itu diberi nama Bratasena dan
Pandusiwi karena ia juga anak Pandu.
Bratasena pun kemudian pulang ke negaranya. Dalam
perjalanan ia bertemu dengan Semar. Ia diberi wejangan untuk bertemu dengan
guru yang tepat yaitu Begawan Durna. Di tengah perjalanan ia bertemu dengan
Anoman. Anoman mengatakan bahwa Begawan Durna bukanlah guru yang tepat, tetapi
tekad Bratasena kokoh dan telah bulat.
Di Sokalima, Begawan Durna didatangi oleh Patih Sengkuni
dan Dursasana, mereka menyuruh Begawan Durna untuk menyingkirkan para Pandawa.
Sang begawan menolaknya karena mereka adalah murid-murid yang hebat. Namun
karena kelicikan Sengkuni akhirnya sang begawan pun menyanggupinya. Setelah
Sengkuni dan Dursasana pergi, lalu
datanglah Bratasena yang meminta diajari ilmu kesempurnaan pada dirinya.
Begawan Durna pun menyetujuinya dengan syarat harus membawa gung susuhuning angin dan tirta pawitrasari sebagai ganti ilmu
yang akan diajarkan. Bratasena segera berangkat mencarinya. Ia pergi ke Gunung
Candradimuka. Dan mengobrak-abrik gunung tersebut, tetapi malah bertemu dengan
dua raksasa bernama Rukmala dan Rukmuka. Terjadi peperangan sengit antara
mereka. Pada akhirnya Bratasenalah yang berhasil menang. Setelah itu datanglah
Batara Indra dan Bayu memberitahukan bahwa di situ tidak ada sesuatu yang
dicarinya. Ia pun pergi ke dasar samudra atas petunjuk dari Begawan Durna.
Sebelum berangkat, Bratasena berpamitan dengan ibunya dan
semua saudaranya. Semula mereka semua tidak sanggup untuk mengizinkan Bratasena
untuk pergi. Tetapi tekad Bratasena yang tidak mungkin goyah lagi segera pergi.
Ketika itu, Krsna memberi kejelasan dan pencerahan kepada mereka semua agar
mendoakan keselamatan Bratasena.
Bratasena telah sampai di tepi samudra. Ia sedikit takut
karena ombaknya yang besar. Tetapi ia ingat akan tekatnya lalu menceburkan
dirinya ke samudra. Di dasar samudra ia bertemu dengan seekor naga. Ia pun
bertarung dengan naga tersebut sampai ia terlilit oleh tubuh naga itu. Dengan
kuku pancanakanya, ia berhasil membunuh naga tersebut. Lalu ia sampai di
kayangan Sunyaruri tempat Dewa Ruci tinggal. Di sana ia mendapatkan wejangan
tentang hidup ini. Setelah mendapatkan wejangan yang sangat berharga itu,
Bratasena kembali ke rumahnya dan mengamalkan ajaran-ajarannya. Di sana Semar
telah menantinya dengan bangga melihat keberhasilan Bratasena.
Relevansi cerita Bratasena dengan kehidupan sekarang
sangatlah banyak. Antara lain bisa kita contoh sikap dari Bratasena yang begitu
taat dengan gurunya. Sudah tidak banyak murid-murid pada zaman sekarang yang
sebegitu menuruti ajaran dari gurunya. Lalu tekadnya yang tidak mudah berubah
membuatnya sangat konsisten. Betapa banyaknya orang yang inkonsisten pada zaman
ini. Ada juga sifatnya yang tidak gentar melihat bahaya yang menghadang juga
tidak banyak ada pada jiwa orang-orang di zaman sekarang. Kemudian bagaimana
Bratasena yang mengamalkan ajaran-ajaran dari Dewa Ruci. Kita sebaiknya
mencontoh perbuatan-perbuatan dan sikap yang baik dari Bratasena. Karena sangat
banyaknya kebijaksanaan muncul dari pelbagai cerita wayang salah satunya cerita
tentang Bratasena ini.
Subscribe to:
Posts (Atom)













