Potret Alam

Kabut yang menyerang hutan.

Potret Alam

Penyerangan masih berlanjut.

Potret Alam

Pohon-pohon juga terserang.

Potret Alam

Jalan menjadi berselimut kabut.

Potret Alam

Hutan kian berkabut tebal.

Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

Thursday, 26 February 2015

Rasane Dadi Kaleng

Rasane Dadi Kaleng
....................................

Thursday, 24 July 2014

Mesin Penayang Mimpi

Mesin Penayang Mimpi

            Suara itu meluncur begitu saja bagai dua speaker berukuran besar. Taro, yang sedang berpetualang di dunia mimpinya tiba-tiba kembali menuju raganya. Ia terlihat keringat membasahi bajunya. Dan betapa terkejutnya ia setelah tahu apa yang terjadi di sekitar tempat tidurnya. “Aku sedang berada di mana ini ?” Gumamnya.
            ***

Bersambung ...

Tuesday, 24 June 2014

Sawah dan Perjuangan

Sawah dan Perjuangan

                        Di sebuah tempat yang hijau nan rindang, Aku sedang memandangi pemandangan indah yang semakin kehilangan rona estetisnya. Sungai, tak sejernih dulu. Rimbun pohon bambu, tak sebanyak dulu. Rumput dan ilalang, juga tak seliar dulu. Sawah pun, tak selebar dulu. Bahkan serangga, tak semenjengkelkan dulu. Banyak yang berubah. Setelah kepergianku enam tahun yang lalu. “Ataukah aku yang membuat keindahan ini berubah ?”
***

            Enam tahun yang lalu, Aku berlabuh di kota budaya yang kata orang-orang disebut Solo. Aku berada di situ karena dua hal. Pertama karena keinginan kerasku untuk kuliah di jurusan DKV1. Kedua karena kebaikan luar biasa dari kedua orang tuaku tercinta. Meski dengan pengorbanan yang luar biasa pula. Lapangan hijau yang dulu tempatku bermain dengan hewan liar dan piaraanku. Tempat itu juga menghasilkan biji putih yang bisa dimakan, disimpan, ataupun dijual. Ya, sebagian sawah keluarga telah dijual hanya untuk membiayai kuliahku. Dan dengan semangat yang membara, aku mulai menjalani masa-masa penggodhokan2 di kawah candradimuka.

            Dua semester telah kulewati dengan lumayan lancar. Dua semester awal ini, aku mendapatkan nilai yang stagnan. Ya, IP-ku selalu 3 pas. Meski begitu, aku akan mencoba untuk lebih giat kuliah lagi. Kuperbaiki kemampuan menggambar, memotret, mendesain berbagai logo, poster, pamflet, iklan, video, dan olah imajinasiku. Di saat aku sedang asyik dengan mouse yang bergerak-gerak di sampingku, tiba-tiba ada peringatan berbunyi seperti bom meledak. “Oh ternyata hpku ada sms masuk” Kataku dalam hati.

1 Pesan diterima
Henri, adikmu sedang sakit parah. Ia sakit TBC dan sedang di RS Aisyah dekat alun-alun kota. Kamu besok pulang ke Ponorogo bisa apa gx ?
Pengirim     : Pak Supardi
081234xxx
Diterima     : 12:22:13
Hari ini

            Berita itu sontak menyetrum hatiku setara dengan kilatan guntur yang terjadi di siang bolong. Bagaimana tidak, tugas membuat desain logo perusahaan air dan permintaan ketua organisasi pers untuk membuat pamflet lomba futsal masih belum selesai. Tetapi demi adikku satu-satunya ini, kurelakan melepaskan segala kesibukan dunia kampus untuk sejenak menengok dan memberinya semangat agar bisa melewati hari-hari sulitnya. Dua hari telah berlalu tanpa ada kabar bagus dari dokter yang merawat adikku. Malah makin hari tubuhnya makin kurus. Dan mungkin inilah waktunya untuk mengucapkan kata-kata penyemangat agar ia bisa melewati fase terakhir dalam hidupnya. Ya benar. Ia telah meninggalkan kami sekeluarga. Aku pun harus berada di rumah lebih lama lagi sampai selesai mengurus penguburan adikku tersayang.

            Aku kembali ke Solo setelah sekitar seminggu berada di kota reog. Dan banyak kabar buruk yang pasti datang sewaktu aku pergi. Satu minggu yang berlalu, membawa masalah baru. Tumpukan tugas setinggi gedung lima lantai harus aku taklukan semuanya. Kujalani masa-masa sulit yang lebih dari biasanya. Duduk terpaku di depan laptop selama seharian penuh. Makan satu kali sehari. Tidur hanya dua sampai tiga jam per hari. Jarang mandi pula. Apalagi ganti baju. Kulupakan jadwal main ke organisasi. Demi mengejar berbagai tugas. Kulakukan demi nilai. Dan semangat akan pengorbanan dari kedua orang tuaku dalam membiayaiku. Di saat injury time, aku pun berhasil menyerahkan semua tugas yang aku kerjakan tepat di meja dosenku. Masalah lama telah selesai, tetapi masalah baru telah muncul. Tubuhku terasa berbeda. Kesadaranku makin memudar. Pandanganku mulai kabur. Bahkan suara celotehan orang lain dari meja sebelah makin tak terdengar.
***

“Hen, kau sudah sadar ? Ini ayah dan ibu Hen ?”
“...”
“Hen ...”
            Kulihat kedua orang tuaku berdiri di depanku. Aku taktahu apa yang terjadi barusan. Yang aku ingat adalah ketika terakhir kali aku berada di ruang dosen itu. “Kau telah pingsan selama hampir dua minggu Hen. Diakibatkan kamu terlalu memaksakan diri sampai kurang makan, tidur, dan istirahat” Kata seorang dokter di sebelah samping kananku.

            Aku masih belum bisa percaya. Kenapa bisa selama itu aku tertidur. Tertidur dan tiada yang bangunkanku. Dan bagaimana kabar dari tugasku kemarin ? Atau apakah aku terlambat mengucapkan selamat datang kepada tugas baru. Semuanya bercampur baur di dalam satu otak. “Tenanglah Hen, kamu harus istirahat dahulu. Tugas itu bisa dicicil sedikit demi sedikit. Biarpun nilainya kurang bagus, yang penting kamu telah berusaha” Kata Ibuku yang penuh dengan untaian kebijaksanaan tiada tara.

            Setelah selesai berurusan dengan rumah sakit, aku pun bisa kembali ke kosku lagi. Kuucapkan terima kasih kepada dokter beserta susternya. Ibu dan ayahku. Satu hal lagi. Tuhanku yang masih memberiku kesehatan lagi. Sesampaiku di kos, aku terkejut tapi takmampu untuk lompat. Bercampur dengan perasaan kesal, sedih, jengkel, dan marah. Honda merah bernomor plat AE 6917 SA telah berpindah ke tangan orang yang tak diketahui. Pemilik kos itu memang anjing. Ingin kutendang gerbang depan kosnya. Ingin kupecahkan kaca-kacanya. Ingin kubanting pot bunga di rumahnya. Bahkan ingin kuhajar sang pemilik kos itu yang taksanggup menjaga barang berhargaku sewaktu kutertidur. Tapi aku takberani karena kemarahan hanya akan membuat masalah baru. Aku mulai memasuki kamarku yang telah lama kutinggalkan. Dan kali ini aku takbisa untuk menahan diri lagi. “Dimana laptop dan kameraku yang sangat berharga itu ?” Teriakku sambil kutendang tembok kamarku.

            Hari-hari pun kian berlalu. Kupikir untuk tak melaporkan semua ini ke polisi. Ya, polisi memang siput. Hanya menghambat selesainya masalah. Aku semakin frustasi. Ini pun membuatku semakin jauh dari kata semangat untuk hidup. Uang yang tersisa kujadikan sasaran. Berbagai obat-obat penenang coba aku tengguk. Aku makin takpedulikan kanan kiri. Aku pun berjalan ke sana kemari tanpa tujuan yang jelas. “Kuliah ini tak ada gunanya lagi” Kataku dalam hati. Di saat langit malam yang penuh dengan hiasan bintang, mataku terasa berat. Kucoba untuk tidur di tumpukan jerami kering. Sambil terkadang merasakan geronjalan dan serasa melayang. Aku tak peduli.
***

            Suara gemerisik dari roda tralis membuyarkan tidurku. Pintu gerbang lipat berkata bahwa aku harus segera membuka mata. Tiba-tiba kepalaku terbentur dengan kayu. Lalu entah kenapa kaki dan tanganku terasa terlipat, takbisa kuluruskan. Bau sinar pagi membuat pemandangan sekitar mulai menampakkan dirinya. Sampai kusadari aku berada di dalam kotak kayu. Kucoba untuk membukanya perlahan. Ketika aku berhasil keluar dari tempat tidurku itu, tiba-tiba ada suara yang menyambarku dari kejauhan. “Tarno, angkat kotak-kotak yang ada di sebelahmu itu. Segera, sebelum truk pengantar barang datang kemari” Ucapnya dengan tegas. Aku pun takpeduli akan perintah dari orang yang tak kukenal itu. Tetapi ia justru mendekat ke arahku.

“Kau siapa ? Kenapa bisa ada di sini ?”
“Maaf pak, nama saya Henri. Saya tak tahu apa yang terjadi. Seingatku tadi malam aku tidur nyenyak dan sekarang malah berada di sini”
“Baiklah Henri, aku takpeduli apakah kamu yang telah menggantikan Tarno karena ia telah menghilang beberapa hari yang lalu. Kalau begitu, segera angkat kotak-kotak itu”

            Aku taktahu dengan pikiranku kali ini. Setelah menengguk obat-obatan aneh kemarin, rasanya diriku seperti air mengalir. Tangan-tanganku segera meraih kotak-kotak selebar setengah meter itu dan mengantarkannya ke depan gerbang toko. Sembari mengangkati kubus-kubus itu, kulihat nama dari toko ini. “Ternyata orang tadi namanya Pak Gunawan ya!” Bisikku perlahan. Lalu aku pun menjalani hari-hariku sebagai pekerja serabutan di situ untuk beberapa waktu lamanya.
***

            Suatu hari yang teriknya sangat memanggang punggung, aku baru saja pulang dari toko sebelah. Sehabis mengantarkan beberapa pesanan cat tembok ukuran jumbo. Secara mengejutkan aku dipanggil Pak Gunawan untuk menemuinya. Aku pun dipersilahkan duduk dulu sementara ia membuka aplikasi coreldraw-nya.

“Henri, apa kamu yang membuat logo ini ?”
“Ia pak, maafkan atas kelancangan saya ya. Kemarin itu waktu jam istirahat, aku coba iseng membuat logo lagi. Sudah lama tidak berkutat dengan mesin pembuat gambar flat, hehe”
“Begini Hen. Ini logonya lain daripada yang lain. Bisa kukatakan bahwa logo hasil buatanmu ini akan membuat tokoku menjadi keren. Besok akan aku pasang di depan toko”
“Wah, bapak bisa saja. Itu sih hanya iseng pak. Dan masih belum seberapa dibandingkan dengan logo yang aku buat dahulu”
“Hmm, kurasa kau harus segera menghubungi temanku ini. Aku yakin kau pasti diterima”

            Pak Gunawan pun beranjak dari kursinya. Bergegas mencari sesuatu. Kutunggu dengan sabar. Lima menit kemudian, ia datang sambil membawa selembar pamflet lamaran kerja. “Hen, kau coba hubungi pak Liu Wan. Ia adalah pemilik perusahaan percetakan iklan yang besar di kota ini. Katakan saja bahwa kamu kenal Pak Gunawan. Pasti ia akan menerimamu. Jangan lupa pula bawa file ini sebagai tanda bahwa kau telah bekerja di tokoku” Demikian saran dari Pak Gunawan kepadaku.

            Keesokan harinya, aku coba berangkat ke perusahaan yang dimaksud di pamflet kemarin. Bus arah Depok coba aku isyaratkan untuk mengantarkanku ke sana. Sesampainya di depan pintu perusahaan, aku coba melangkahkan kaki dan hatiku sambil berdoa agar semuanya lancar. Berbagai interview dan adu desain dengan berbagai saingan telah kulalui. Dan hasilnya sungguh membuatku bersujud syukur. Kontrak kerja selama lima tahun dengan kenaikan gaji secara bertahap telah aku tanda tangani. Selama sekitar setahun bekerja di perusahaannya Pak Liu Wan, aku telah berhasil mengembalikan semua barang-barangku yang hilang sewaktu kuliah. Mungkin inilah saatnya untuk pulang ke tanah kelahiran. Waktunya untuk mengembalikan satu hal lagi yang hilang.
***

            Liburan panjang akhir tahun telah tiba. Dengan menaiki Honda merah berplat B 1769 AF, aku coba mengarungi pantura. Ketika aku beristirahat di sebuah pom bensin, kucoba bayangkan ketika aku berada di Solo sampai bisa berpindah ke Jakarta. Entah apa yang terjadi setelah aku tertidur di tumpukan jerami dengan keadaan sangat mabuk. Ratusan  kilometer pun kulalui. Dengan berbagai deru suara motor, mobil, bus, truk, dan yang lainnya. Sering kali aku salip menyalip dengan pengendara lain. Bahkan hampir berserempetan dengan kendaraan lain. Hantaman ribuan titik-titik air dari langit dan sengatan sinar tak kupedulikan. Melewati beberapa wilayah kabupaten dan kota secara silih berganti. Debu dan asap kendaraan juga temani perjalananku ini. Demi mencapai istana tercinta.
***

            Beberapa hari perjalanan dari ibukota negara menuju desaku tercinta. Akhirnya aku melewati gerbang reog. Sambil mengingat kenangan beberapa tahun yang lalu. Lima menit setelah itu, sampailah aku di sini, tempat yang menyimpan berbagai memori indah dari mulai kecil sampai remaja. Ketika aku sampai di depan rumah, tiba-tiba ibu, ayah, kakek, nenek, dan beberapa tetanggaku tampak heran. Hening. Sunyi. Tak sepatah kata terucap. Tak pula gerak badan seperti sapaan khas orang desa. Sampai satu menit setelah itu aku berteriak. “AKU PULANG ...”.

            Langsung kupeluk kedua orang tuaku. Lalu kepada nenek dan kakekku pula. Para tetanggaku mulai bertanya-tanya. Lalu aku pun menceritakan semua pengalamanku. Sampai aku mengeluarkan air mata kesedihan ketika tidak bisa menghubungi keluargaku karena aku juga kehilangan hp beserta semua kontaknya. Jadi selama itu, aku sama sekali tak mengabari orang-orang rumah. Dan inilah hasil dari berbagai pengalaman indah yang takkan terlupa.

            Keesokan hari setelah kepulanganku, aku coba menengok sekitar. Sawah belakang rumah yang dulu adalah sawah keluargaku sekarang menjadi milik orang lain. Ibuku mengatakan bahwa sawah belakang rumah terpaksa dijual untuk membayar biaya perawatan sampai penguburan adikku. Sungguh tragis pada kenyataanya. Sawah pun harus sia-sia karena takbisa membuat adikku sembuh dari penyakitnya. Dan sekarang malah menjadi rumah bertingkat dua. Lalu sungai yang ada di sampingnya menjadi mengerikan. Baunya seperti bunga bangkai, ah malah lebih dari itu. Mungkin bisa kukatakan baunya seperti campuran tinja, nanah, borok, kencing, daging busuk, bangkai ternak, beserta sampah lainnya. Lalu sawah kenanganku waktu kecil. Kini telah berubah menjadi pabrik pengolahan tebu. Tetapi kebanyakan masalahnya hampir sama. Jika sawah-sawah itu ada di dekat jalan pedesaan, pasti berubah menjadi rumah. Rumah yang luas nan mewah. Jika ada di dekat jalan raya, pasti bertransformasi menjadi rumah makan, bengkel, toko, minimarket, sekolah, atau gedung-gedung perusahaan.

            Setelah aku melakukan pengamatan ke sana kemari, saatnya kuputuskan satu hal. Akan kuucapkan komitmenku. Laksana Gajah Mada dengan sumpah palapanya. Aku pun akan melakukannya pula. Tentu dengan gayaku sendiri. Seperti kata yang tercoret di baliho. Bali desa mbangun desa3. “Ibu, ayah, nenek, dan kakekku tercinta, aku akan mengembalikan semua yang telah kalian berikan padaku sewaktu dulu. Pengorbanan kalian semua, ‘kan kubayar lunas setuntas-tuntasnya” Ucapku dengan penuh semangat.
                                                            *************

Catatan:
1.                  DKV = Desain Komunikasi Visual
2.                  Penggodhokan = pengolahan
3.                  Bali desa mbangun desa = kembali ke desa membangun desa

Thursday, 29 May 2014

Pertemuan Terakhir

Pertemuan Terakhir

Kamis, 15 Mei 2014
Kami bertemu di sebuah pesta yang sangat meriah dan juga mengharukan. Kulihat ada yang berwajah ceria, ia begitu penuh canda tawa dan sangat bersemangat. Ada pula yang tampak kelelahan karena kebanyakan makan daging ayam yang tersaji istimewa. Lalu, ada yang malah melakukan ritual melamar. Melihat hal itu, semuanya terhenyak. Ia adalah seorang pangeran berparas seperti Peter Parker dari kelas kami yang sangat populer. Ia baru saja mengatakan cintanya kepada seorang putri kerajaan mirip Gita Gutawa yang tinggal dekat rumahku. Hari itu benar-benar penuh warna.

Dan satu hal yang kulihat saat itu. Dari kejauhan kau tampak seperti biasa. Kucoba untuk mendekatimu. Warna gaunmu yang menggetarkan jiwa. Pupilmu yang bersinar-sinar dan kilauan rambut panjangmu yang terurai. Kucium bau parfummu yang sangat menggoda. Kali ini, aku takkan ragu lagi. Kucoba bicara denganmu. Mungkin inilah kesempatan terakhir kita semua bisa berkumpul seperti ini.

“Laili, gimana kabarmu ?”
“Kabarku baik Ka. Arka sendiri gimana ?”
“Baik juga sih. Hmm, meriah juga ya, pesta ini. Daripada kamu duduk termenung sendirian di sini, yuk kita berfoto bareng teman-teman yang lain!”

Bulan semakin bersinar terang. Cuaca dingin yang kian berdatangan bersamaan dengan angin malam yang berhembus. Malam itu, kami semua telah mengabadikan momen yang indah. Foto bersama untuk dikenang suatu saat nanti. Setelah itu, semuanya pun mulai berpamitan. Di saat Laili beranjak pulang, kucoba untuk mengejarnya. Gaun panjangnya seakan terbawa hembusan angin dan kami berdua tepat berdiri di bawah sinar purnama.

“Arka, katakan padaku bahwa kau akan menjemputku ketika bulan purnama telah berwarna merah. Kutunggu di depan taman abadi” Katanya sambil mulai berlari. Terlihatlah tetesan air dari pipinya. Ia mulai menjauh. Aku merasakan bahwa inilah kali pertama kulihat dia tampak bersedih.

***
Jumat, 30 Mei 2014
Malam ini, hanya suara gemerisik dedaunan yang terdengar. Kulihat langit juga menutup diri. Entah apa yang ia rahasiakan di malam ini. Lima belas hari setelah momen itu, aku mendapat beberapa kabar baru. Raika, Hestia, Alfi, dan Nila diterima di Universitas. Malna, Silva, dan Jaya sama-sama melanjutkan karir di perusahaan dekat pusat kota. Ada juga yang pindah ke kota lain karena tuntutan karier orang tuanya. Sebagian kuketahui kabar mereka lewat kicauannya di media sosial. Adapun yang sekadar lewat pesan singkat. Terkecuali Laili. Entah di mana dan sedang apa dia sekarang.

Hatiku kian bimbang. Ia katakan padaku untuk segera bertemu dia lagi. Tetapi dari hatiku yang paling dalam katakan bahwa aku tidak boleh mengingkari janjinya, sebelum bulan benar-benar berwarna merah. Ketika dua pendapatku makin berkecamuk satu sama lain, kucoba untuk duduk. Sambil kuraih sebatang Kit Kat dan segelas Milo, kucoba untuk memutuskannya segera. “Mungkin tidak ada salahnya jika aku datang ke rumahnya dan menanyakan kabarnya. Jika ia tidak ada, maka keluarganya pasti tahu” Demikian akhirnya kuputuskan untuk memberanikan diri untuk malam ini ke rumahnya.

Udara malam yang terasa menusuk tulang tak menghambatku kali ini. Dengan menaiki Polygon, aku menelusuri jalanan yang serasa kelam. Sekitar dua puluh menit kemudian, akhirnya kulihat gerbang istananya yang berwarna biru langit. Kuberanikan diri untuk memasukinya. Di sana kulihat rumahnya sepi meski lampunya masih bersinar terang. Perlahan kuketok pintu rumahnya. Lalu seorang dengan tinggi badan yang menjulang dan rambut kepala yang kian memutih membukakan pintu, sambil memegang sebuah pipa berisi Djarum Super. Dari raut mukanya, bisa kutebak ia pasti segera mengusirku. Dan benar saja. Hanya sekitar lima menit berdiri di depan pintu, aku segera pamitan. Ia katakan padaku bahwa Laili sedang tidak ada di rumah.

Sebenarnya ia tidak mengusirku, tetapi aku yang memilih untuk pamitan karena apa jadinya jika aku benar-benar masuk ke rumahnya. Mungkin jika ia tahu aku datang malam ini, meski ia tidak ada di rumah saat ini, ia akan membenciku selamanya. Dengan ayunan pedal yang lambat, kepulanganku hanya ditemani oleh bayanganku sendiri di bawah sinar lampu jalanan.

***
Minggu, 10 Agustus 2014
Kali ini, aku akan coba untuk cari informasi secara diam-diam. Tanpa sepengetahuan ayah dan ibunya. Kupikir hampir tiga bulan sejak hari terakhir bertemu, hatiku kian rapuh. Makin membeku meski tidak dalam freezer. Kian perih meski tidak ada darah yang keluar. Makin lenyap jika kubiarkan terus menerus. Sore ini aku akan berkunjung ke rumahnya Chika, sahabat karibnya Laili. Rumahnya yang berada di pucuk gunung tak menghalangiku kali ini. Kupacu Honda merahku yang berpelat W 6917 AA dengan kecepatan santai.

Hampir satu jam perjalanan, aku pun mulai merasakan hawa khas pegunungan. Udara yang bersih nan mengandung oksigen tinggi. Hutan pinus yang berjejeran juga menyambutku. Ada pula gemericik air yang jatuh dari tebing juga mempersilahkan aku untuk lewat. Kulihat ada kumpulan titik-titik air yang mengembun di sekitarku, lalu menempel di helmku. Lalu, tepat di depan hidungku, kucium aroma rumahnya Chika yang makin dekat. Kulihat pula ia sedang asyik bercerita dengan bunga mawar di tamannya. Dengan langkah pasti, aku mulai berjalan mendekatinya.

“Selamat sore Chika. Gimana kabarmu sekarang ?”
“Sore Arka, hmm, seperti biasalah. Habis pulang dari rumah nenek, lalu aku sempatkan untuk menyiram bungaku yang lama kutinggalkan, hehe”
“Begitu ya. Bunga yang ditinggalkan ...”
“Ka, Arka ...”

Aku malah masuk ke dunia halusinasi ketika menghayati kata-kata itu. Lalu aku pun mulai menanyakan kabarnya Laili. Entah apakah Chika sedang terkena sihir, ia tampak bengong. Kucoba untuk menggerak-gerakkan tanganku di depan mukanya. Juga kubunyikan jari-jemariku. Tak lama kemudian, raut mukanya mulai berkata padaku. Matanya gemetar, kelopak matanya juga menunduk, air matanya juga mulai mengalir. Ia pun bercerita panjang lebar padaku. “Semenjak hari itu, momen terakhir itu, detik-detik yang takkan terlupakan itu, ia entah ke mana dan tak memberi kabar apa pun Ka” Isak tangis Chika pun tak terbendung.

Mungkin yang Chika alami memang sama sepertiku. Aku pun mulai menghibur Chika dengan mengatakan kata-kata terakhirnya padaku dulu. Sewaktu ia berpamitan pulang. Aku juga berharap semoga kita semua masih diberi kesempatan untuk bertemu lagi. Langit pun mulai mengubah warnanya dari kemerahan ke warna yang kian suram. Lalu aku pun berpamitan.

***
Senin, 11 Agustus 2014
Hari ini, aku coba cara lain. Mungkin ini adalah strategi yang penuh dengan resiko. Tapi kupikir lebih baik daripada harus bertanya kepada orang tuanya. Kucoba untuk pergi ke sebuah kantor yang berada di pusat kota. Kuharap ada informasi yang bisa aku dapatkan. Dengan ditemani Hondaku lagi, aku merasakan sedang memainkan lempar koin. Jika beruntung, aku dapatkan info. Jika sial, maka hancurlah sudah. Mentari yang tepat berada di atas kepala, panasnya sungguh terasa. Aku pun sampai di rumah dinasnya walikota.

Aku mulai berjalan dengan tenang memasuki ruangan kantor. Hawa dingin dari Ac mulai merasuki tubuhku. Sayup-sayup terdengar bunyi printer dan detak suara orang sedang mengetik. Ada pula yang berjalan ke sana kemari sambil memegangi telepon genggam. Hanya satu tempat yang sedang aku tuju. Yaitu ruangan sekretaris walikota. Di sanalah kakak laki-laki Laili sedang bekerja. Ketika akan kuketok pintunya, tiba-tiba hal yang takterduga pun muncul dihadapanku.

PRAKKK, CRAAANGGG, BRUUKKK... Seperti kiamat di dalam ruangan sekretaris. Betapa tidak. Kulihat pecahan gelas, meja yang terguling, dan kertas juga peralatan kantor yang berserakan. Ada dua orang yang terdiam di kursi mereka. Kakiku seperti terpaku. Tak bisa bergerak lagi. Kudengar kata-kata kasar dan penuh makian keluar dari mulut kakaknya Laili kepada dua orang itu. Sampai-sampai beberapa rekan kantornya mulai berdatangan. Tetapi ia malah melangkah keluar dari ruangannya dengan langkah yang cepat. Terlihat dari tatapan matanya betapa ia masih marah dengan kedua orang tadi. Alhasil aku pun mulai mengurungkan niatku untuk bertanya padanya saat itu.

Aku pun pulang tanpa hasil. Malam ini, langit terasa berbeda. Entah kenapa, tiap malam hari, bulan terasa kian dekat dan besar. Ataukah sebatas menuju purnama seperti biasa. Entahlah.

***
Jumat, 15 Agustus 2014
“Arka, ayo ke sini, berlarilah kemari”
“Laili, benarkah itu kau ?”
“Ia Ka. Sini cepat, aku punya sesuatu untukmu. Dengarkan puisi yang baru aku buat ini ya”
                        Dengarkan bunyi hati yang tersirat
                        Lihatlah indahnya lukisan jiwa
                        Maknailah suasana nada irama kalbu yang penuh amanat
                        Kau yang datang malam ini
                        Yang tak ingkari janji suci
                        Janji yang buktikan kesetiaanmu
                        Setiamu padaku
                        Ku sangat cintaimu ...
Tiba-tiba aku terbangunkan mendengar baris terakhir puisi itu. Entah apakah hanya mimpi atau memang benar Laili yang mendatangiku. Aku pun langsung berjalan menuju lorong belakang rumah. Membasuh muka sambil mengingat puisi yang ia ucapkan tadi. “Betapa indahnya puisimu itu, kuharap kita bisa berjumpa lagi” Kataku di depan cermin kamar mandi. Aku pun tak sabar ingin segera melihat malam.

Jarum jam bergerak sampai tak merasakan lelah. Ia katakan padaku bahwa sekarang sudah pukul 19.30. Kucoba ‘tuk melirik angkasa. Pemandangan yang jarang aku lihat. Ratusankah, tidak, kupikir bermilyar-milyar bintang sedang mengadakan pesta. Mereka berkelap-kelip. Ada yang terang, ada yang redup. Ada pula yang bergerak. Kupikir itu adalah bintang jatuh. Dan ini mengingatkan aku pada pesta di malam itu. Lalu sinar merah juga hiasi ramainya langit. Bulan malam ini bersinar merah dan sangat besar. Kurasa inilah saatnya untukku menemuinya.

Aku mulai berjalan sendirian dalam kelamnya malam. Anehnya, tiada sesosok raga pun yang terlihat malam ini. Angin yang berhembus membuat dedaunan berguguran. Hanya terdengar suara jejak kakiku yang sedang menapaki jalan. Lalu ada sesosok makhluk berwarna hitam yang hinggap di salah satu dahan pohon. Suaranya terdengar menyeramkan. Kucoba untuk mengamatinya lebih dekat. “Ternyata hanya burung gagak. Sebaiknya aku segera pergi dari sini”  Gumamku seraya mulai menggerakkan kaki dengan cepat.

Sambil mengusap keringat karena kelelahan, kulihat gerbang taman yang bertuliskan “Taman Abadi”. Ketika akan melangkah ke sana, tiba-tiba kulihat banyak orang yang memenuhi makam yang ada tepat di seberang jalan depan taman abadi. Kucoba untuk melangkahkan kaki dan hatiku menuju ke sana. Sejenak aku menghela napas dulu. Aku kucek-kucekkan kedua mataku. “Apakah ini nyata ? Itu adalah keluarganya Laili. Apa mungkin Laili, apa yang terjadi sebenarnya, apa yang ia katakan dulu ?” Beberapa pertanyaan tak percaya keluar spontan dari mulutku. Aku akhirnya memberanikan diri menuju ke gundukan tanah yang baru saja ditaburi oleh bunga-bunga.
            Laili Puspita bin Marto Sukadi
            Lahir 13 Juni 1995
            Meninggal 15 Agustus 2014
Seakan tak percaya meski langit runtuh, ternyata memang tulisan yang terukir di batu nisan itu tidak salah. Aku juga tak tahu kenapa, tiba-tiba air mataku keluar dengan derasnya. Tapi kucoba untuk segera hentikannya. Kakiku menjadi lemah, aku pun tertunduk. Lalu aku mulai berdoa tepat di dekat rumah terakhirnya. Setelah proses penguburan selesai, aku coba tanyakan semuanya kepada keluarganya. Ternyata, menurut pengakuan ayah dan ibunya, ia baru boleh mengatakan semuanya setelah penguburannya selesai.

Ayah ibunya mengatakan bahwa sebenarnya Laili telah divonis meninggal sejak 6 bulan yang lalu karena menderita penyakit kanker. Kanker yang telah menjadi musuh mematikan kaum Hawa. Benar. Adalah kanker payudara yang telah merenggut nyawa anak kedua keluarga itu. Begitu pula membawa pergi satu-satunya perempuan selain ibuku yang aku sayangi. Entah apa yang ia katakan sewaktu pertemuan terakhir kami berdua tepat empat bulan yang lalu. Dan sekarang aku baru sadar, bahwa ia pasti melakukan ini semata-mata karena tidak ingin melihatku bersedih. Ibunya juga berkata bahwa mereka merahasiakan ini kepada semua teman-temannya. Apalagi jika temannya mengetahui ia sedang sakit, hanya akan membuat temannya ikut bersedih.

Aku pun paham akan perasaannya. Perasaan seorang perempuan yang tidak ingin membuat orang lain merasakan kepedihannya. Lalu aku teringat akan puisinya tadi pagi. Kucoba buat puisi spontan untuk membalas puisimu itu.
                        Apa kau melihat derasnya lautan kesedihan ini ?
                        Apa kau mendengar kerasnya bunyi kemuraman ini ?
                        Apa kau merasakan perih sakitnya sukma yang tersayat ini ?
                        Apa kau mencium aroma jiwa yang pilu ini ?
                                    Kau yang sekarang tertidur
                                    Tidurmu yang begitu lama
                                    Apakah kau tak ingin bangun ?
                                    Tak ingin ketahui isi hati ini ?
                                    Hati nurani yang begitu suci
                                    Sesuci cintaku padamu


***

Wednesday, 23 April 2014

Jeruk Penyelamat

JERUK penyelamat


“Ayo main bola nak, aku yang jadi penjaga gawangnya.”
“Ia Pa. Aku ambil bola dulu ya !”

Kala sinar merah menyinari dunia. Itulah momen yang tepat ‘tuk bersama keluarga. Senja menjelang petang, jikalau waktu mengizinkan, aku selalu menyempatkan diri untuk bersantai sejenak. Apalagi bersama Stevi. Anakku satu-satunya ini memang senang sekali bermain dengan si kulit bundar. Sepakbola dan voli sudah menjadi teman setia. Dan ia juga memiliki kesamaan gen denganku dalam hal hobi. Salah satunya tidak menyukai basket. Dari kejauhan tampak seorang bidadari penyelamatku dan Stevi. Semakin mendekat sambil membawa dua gelas berisi air segar pelepas dahaga.

“Mas, ajak Stevi minum dan istirahat ya !” Kata istriku sembari menghidangkan es jeruk
“Wah es jeruk. Ayo minum dulu Pa” Sahutnya sangat bersemangat

            Aku dan Stevi mulai berbincang-bincang. Tentang benda berwarna orange tersebut. Sepertinya Stevi sangat menyukai sensasi rasanya yang menggelitik saraf lidahnya.

“Pa, ayo kapan-kapan kita beli buah jeruk ya. Manis sekali jeruk buatan mama.”
“Tentu sajalah. Semanis apa pun jeruk, jelas lebih manis hidup di antara keluarga nak. Tapi kau tahu Stev, tidak secepat yang kau bayangkan jeruk itu bisa langsung meluncur ke gelasmu itu. Haha”

“Memangnya apa maksud Pa ?”
“Sudahlah, lain kali aja aku ceritakan. Sekarang kamu mandi ya. Hari mulai malam. Jangan lupa bawa bolanya ke dalam rumah.”

            Lampu alami telah lenyap di ujung cakrawala barat. Berganti sumber sinar buatan manusia. Teman-teman Stevi mulai berdatangan. Mereka sedang belajar PKN. Dengan materinya yaitu sikap rendah hati. Jam sembilan malam. Teman-teman Stevi segera berpamitan. Di malam itu pula aku berjanji kepada Stevi untuk mengajaknya ke toko buah. Stevi pun senang sekali dan segera tidur.

***
            Ketika siklus alam masih berputar seperti biasa, Stevi juga memulai daur hidupnya dengan bangun lalu mandi, kemudian menyantap sumber energi kaya akan gizi yang telah ada di depan tv. Setelah mengucap salam, ia bergegas berangkat sekolah. Motor, mobil, dan sepeda jarang yang melintas mewarnai pagi ini. Berbagai pedagang pinggir jalan mulai meretas asa mencari rezeki. Ada pula loper koran yang melintas. Satu hal yang membuat mata Stevi langsung tersengat adalah pemandangan tepat di depan hidungnya. Pikirannya mulai kacau terinfeksi olehnya. Bukan seorang gadis cantik karena Stevi masih kelas 4 SD. Melainkan adanya berbagai tumpukan buah jeruk yang kelihatan menggoda otak Stevi kala itu. Tanpa peduli kanan kiri, Stevi langsung melangkahkan kedua kakinya dengan cepat ke arah seorang kakek tua penjual jeruk tersebut.

            Dan siapa pun takkan pernah bisa menduga kejadian ini. Dari kejauhan tampak pengendara motor yang melaju bagaikan motto gp. Sontak pengendara tersebut hampir menabrak Stevi. Kakek tersebut melihat hal itu. Tanpa memedulikan usianya, kakek itu langsung berlari menuju Stevi. Lalu mendorong Stevi dan akhirnya BRUKKKK. Suara motor yang terdengar keras memekikkan telinga karena telah menabrak seseorang.

“Astaga, kakek, kau tidak apa-apa kan ?” Tanya pengendara motor itu panik

            Setelah agak sadar, terciumlah bau darah segar mengalir di dekat Stevi. Stevi melihat seorang kakek yang terkapar di tengah jalan. Stevi kaget melihat hal itu. Si pengendara motor itu pun segera membawa kakek ke RS terdekat. Stevi ingin ikut ke RS karena sangat prihatin dengan keadaan kakek itu. Tetapi si pengendara motor itu mengatakan bahwa Stevi harus segera sekolah. Sambil memberinya alamat RS yang akan ditujunya. Dengan wajah yang sangat muram juga hati yang tersentuh karena kakek tadi, Stevi terus berjalan menuju tempat pembelajaran. Juga tidak lupa ia berdoa semoga kakek tersebut segera sembuh.

            Sepulang sekolah, Stevi langsung makan lalu istirahat. Rencananya, sore ini aku akan mengajak Stevi ke toko buah. Tetapi aku tidak tahu kenapa dengan Stevi. Wajahnya yang merana, semangatnya entah dicuri oleh siapa, bahkan satu kata pun belum terdengar darinya.

“Stev, ada masalah apa ? Kok kelihatannya kamu tidak bersemangat. Nanti kan mau beli jeruk.” Aku pun coba menghiburnya
“Tidak ada apa-apa Pa.” Jawabnya sambil masih tertunduk
“Baiklah. Kalau begitu kamu segera siap-siap ya. Kita akan beli buah jeruk kesukaanmu”

            Lalu kami berdua pun berangkat menuju ke rumah buah. Sesampainya di sana, banyak sekali pemandangan yang seharusnya membuat Stevi kegirangan. Berbagai jeruk menampilkan paras moleknya. Seperti di acara pameran gaun di Prancis. Pesertanya ada dari lokal maupun impor. Entah sejauh berapa kilometer asal mula jeruk itu sampai ke gedung pementasan ini. Entah berapa lamanya biji bisa tumbuh menjadi pohon lalu menghasilkan buah jeruk. Tetapi Stevi tetap saja menundukkan pandangannya. Aku tidak tahu kenapa ia bisa terlihat sesedih ini. Akhirnya kami pun keluar dari toko dengan tangan hampa. Dalam suasana yang kian memburuk, aku menyempatkan diri untuk bertanya sekali lagi kepada anakku tersebut.

“Ada apa nak ? Ceritakanlah pada bapak. Jangan disimpan sendiri donk !”

            Stevi masih belum menjawab pertanyaanku. Kulihat digenggaman tangan kanannya ada kertas. Aku coba meminta Stevi untuk membukanya. Ternyata bertuliskan alamat RS.

“Pa, ayo kita pergi ke RS ini. Aku ingin bertemu dengan orang itu Pa.” Stevi pun mulai meneteskan air-air kesedihan.

            Meski aku belum tahu isi hati Stevi, demi membuatnya kembali bersinar cerah lagi, aku segera mengantarkan Stevi ke RS yang dimaksud. Sesampainya di sana, aku dan Stevi segera mencari ruangan yang ingin dituju Stevi. Berbagai lekuk koridor yang berliku-liku, berbelok-belok, dan membingungkan bak labirin tidak membuat Stevi patah semangat. Ia terus berusaha menemukan ruangan tempat seseorang sedang dirawat. Dan, inilah kamar yang dimaksud. Aku dan Stevi membuka pintu yang di dalamnya berisi semua pertanyaanku. Aku lihat ada seorang yang duduk di samping kakek yang terbujur lemah di kasur. Seketika Stevi langung bergegas ke samping kakek tersebut.

“Kakek, apa kakek baik-baik saja ? Aku takkan pernah melupakan kejadian tadi. Betapa hebatnya kakek yang tidak peduli usia dan juga resiko hanya untuk menyelamatkanku.”
“Tunggu, kakek itu tadi kenapa ?” Aku pun bertanya kepada seorang yang duduk
“Sebelumnya, maafkan aku dulu pak. Tadi pagi aku melaju dengan kecepatan tinggi. Tiba-tiba anakmu itu menyeberang tanpa memperhatikan keadaan. Karenanya, aku hampir menabraknya. Sampai ada seorang kakek penjual buah jeruk yang menyelamatkan anakmu.” Jelasnya panjang lebar
“Hmm, jadi ini penyebabnya. Anakku yang biasanya bersemangat langsung 180 derajat berbalik suram, kelam, hingga terlihat tenggelam.” Kataku dalam hati

            Mendengar cerita dari anakku dan pengendara tersebut, aku pun sangat terharu akan kebaikan seorang kakek tua penjual jeruk itu. Tanpa memedulikan resiko atau pun dirinya sendiri, ia mengorbankan keselamatannya demi anak orang lain. Aku yakin kakek itu adalah contoh orang yang sangat rendah diri dan baik hatinya jarang dimiliki orang. Beberapa saat kemudian, kakek itu sadar. Ia melihat Stevi. Anak yang ia selamatkan tadi pagi. Melihat kakek itu telah mulai mengamati sekitar, Stevi langsung menuju lagi ke dekat kakek sambil menangis tersedu-sedu hingga deras air matanya terus mengalir takterbendung. Betapa tersentuh hatinya melihat keadaan kakek itu setelah menyelamatkannya.

“Hei nak. Bagaimana keadaanmu ? Baik-baik saja kan ?”
“Aku selamat kek, atas pengorbanan kakek tadi pagi. Bagaimanapun kakek adalah orang yang luar biasa. Aku takkan melupakan momen pagi tadi kek.”
“Syukurlah. Yang penting kamu bisa terus sehat dan selamat. Karena kamu masih punya masa depan yang panjang. Untuk dirimu dan orang-orang di sekitarmu.”
“Ia kek. Kalau tidak ada kakek, apa yang ‘kan terjadi selanjutnya.”
“Tidak apalah nak. Selanjutnya, kamu harus berhati-hati ya. Bisa saja sekitarmu menjadi jahat atau baik kepadamu. Bisa menguntungkan atau merugikanmu. Jangan lupa juga kamu bersyukur kepada Tuhan. Karena Dialah penyelamat kita sesungguhnya.”

            Kata-kata dari kakek itu memang sangatlah bijak. Aku coba memaknai tiap untaian kata-kata mutiaranya. Sungguh indah nan penuh makna. Senja menjelang berganti malam. Aku dan Stevi segera pamitan. Sebelumnya, Stevi mengajakku ke bagian administrasi RS. Stevi meminta penjaga administrasi menghubunginya jika kakek itu telah pulih semua luka-lukanya.

***
            Dua minggu telah berlalu. Aku mendapat kabar dari RS bahwa kakek penjual buah jeruk telah sembuh. Begitu mengetahuinya, Stevi langsung bergegas mengajakku menuju rumahnya. Kami berdua berangkat menuju alamat yang diberi oleh petugas RS. Melewati jalan desa yang banyak jebakannya. Banyak pepohonan yang terlihat berjalan di pinggir jalan. Rumah-rumah berlapis besi alami dan warga yang suka menyapa mewarnai perjalanan menuju rumah kakek itu. Suasana bersahabat memang mencerminkan warganya. Setelah melewati berbagai halang rintang, akhirnya kami sampai di rumah seorang penyelamat yang takkan terlupakan.

            Begitu sampai di rumah kakek penjual jeruk, Stevi langsung berlari memeluk kakek itu. Setelah hari-hari sebelumnya aku berdiskusi dengan istriku tentang keinginan Stevi. Aku pun akan mengatakannya. Tetapi sebelum mulutku mengucapkan sihir ajaib perubah segala, anakku juga mengeluarkan sihirnya terlebih dulu. Lalu membuat sihirku gagal.

“Kakek, karena kakek sangat baik aku akan memberikan sihir ini kepada kakek.” Katanya manis
“Ada apa memangnya nak ? Katakan sekarang sihirnya, haha”
“Baiklah. Abrakadabra, bim salabim. Besok kakek bawa semua buah-buahnya ke warung yang telah aku, bapak, dan ibuku buat untuk kakek. Agar aku bisa selalu membeli buah jeruk kakek.”
“Wah, kau anak yang baik sekali. Semoga kamu nanti bisa terus tumbuh menjadi anak yang berbakti kepada orang tua. Semoga juga bisa mendapatkan semua impianmu.”
“Ia kek. Terima kasih banyak ya kek. Dan semoga ke depannya masa depan kita semakin cerah.”

TAMAT

Wednesday, 5 March 2014

Api Kemarahan dan Keirihatian

Api Kemarahan dan Keirihatian


            Awan malam itu terlihat memerah. Asap hitam membubung tinggi membuat suasana menjadi berbeda. Lalu suara jejak langkah para warga yang berlarian mewarnai saat-saat genting itu. Tak lama kemudian terdengar bunyi sirene yang keras. Narava dan Wiwan segera berlari menuju sebuah bangunan yang ternyata terbakar. Betapa terkejutnya Narava. Bengkel sahabat karibnya yang bernama Reno telah hancur dilalap si jago merah.

“Wahai temanku, bersabarlah. Memang ini adalah sebuah tragedi yang takterduga”. Kata Wiwan
“Wiwan, aku tak bisa percaya. Darimana datangnya api itu ?. Aku tidak yakin akan hal ini. Pasti ada sesuatu dibalik semua ini”. Narava pun mulai menangis

            Sementara itu, polisi pun datang dan segera mengolah TKP. Beberapa menit berlalu, api telah berhasil dijinakkan oleh pemadam kebakaran. Beberapa personil pemadam kebakaran dan polisi segera memasuki bengkel. Dan naas. Ada seorang yang telah tidak bernyawa. Setelah dibawa keluar, Narava pun segera melihat mayat itu. Betapa sedihnya dia ketika melihat sahabatnya telah meninggalkan dunia dengan cara yang tidak pernah ia sangka. Polisi segera melakukan penyelidikan sidik jari. Narava pun juga melihat bengkel Reno jika saja ada barang bukti. Ternyata mesin karya Reno terselamatkan meski ada sedikit goresan api. Memang seperti sebuah keajaiban. Narava tahu mesin itu. Itu adalah mesin yang akan Reno gunakan untuk kontes mesin teririt se-Asia beberapa minggu lagi.

            Setelah beberapa kali olah TKP, akhirnya ada sidik jari yang terdeteksi. Meski begitu, tidak begitu jelas karena sepertinya bercampur dengan goresan api. Rencananya penyelidikan akan dilanjutkan lain hari. Karena yang terpenting adalah membereskan sisa-sisa kebakaran dan mengurus jenazah Reno. Narava dan Wiwan pun ikut mengantarkan jenazah Reno menuju ke peristirahatan terakhirnya malam itu.

“Reno sahabatku, tenang saja kau. Kupasti akan menemukan pelaku pembakaran dan pembunuhanmu”. Kata Narava sebelum meninggalkan kuburan Reno
“Ayo Narava, sudah saatnya kita pulang”. “Ia Wan. Semoga ia bisa tenang di alam sana”.

            Hari demi hari kian berlalu. Bahkan minggu-minggu telah terlewati tanpa adanya perkembangan tentang kasus itu. Sambil bekerja sama dengan polisi, Narava terus berusaha mencari bukti-bukti tentang sidik jari yang telah terdeteksi kemarin. Narava pun mempunyai ide untuk mencoba ke rumahnya Reno. Jika saja ada hal yang berkaitan dengan kasusnya itu. Setelah berbincang-bincang dengan keluarganya Reno, ternyata tidak ada hal yang menarik untuk menjadi barang bukti. Tetapi Narava coba melihat buku diarinya Reno. Jika saja ia menuliskan sesuatu. Keluarganya Reno pun memersilahkan Narava untuk melihat buku diarinya Reno. Dan setelah Narava membolak-balik halamannya, akhirnya catatan terakhir sebelum kepergiannya telah berhasil ia temukan.

“... Hari ini, tanggal 5 Maret 2013. Aku sedang dalam tahap perancangan mesin mutakhir sepanjang karirku. Yang akan memenangkan kontes mesin teririt se-Asia tahun ini, haha. Meski begitu, ada satu hal yang kurang. Aku harus meminjam salah satu alat milik Wiwan. Mengingatnya aku pun merasa sedih. Ia adalah seorang yang selalu memimpikan untuk mengikuti kontes ini. Karena hanya ada satu wakil dari satu kabupaten dan melaju ke tahap nasional. Walau bagaimanapun, aku tahu Wiwan pasti akan dapat kesempatan lain waktu ...”

            Catatan dari diari terakhir Reno hanya sampai di kata itu. Sepertinya belum selesai ia tulis. Melihat catatan itu, semakin membuat Narava sedih. Andaikata tidak ada kejadian itu, pasti ia akan melihat sahabatnya memenangkan kontes besar yang notabene akan diselenggarakan di negara matahari terbit. Dan ada satu hal yang membuat Narava penasaran adalah disebutnya Wiwan di diari terakhirnya. Lalu Narava diam-diam mengajak polisi untuk mengidentifikasi sidik jari yang ada di bengkelnya Wiwan. Ternyata benar saja. Ada kesamaan sidik jari pada sidik jari di mesin yang ada di bengkelnya Reno. Polisi segera bertindak cepat.

            Tak lama setelah itu, polisi pun berhasil menangkap seorang yang diduga sebagai tersangka. Ternyata ia adalah seorang pekerja bengkelnya Wiwan yang bernama Masnuri. Ia pun mengaku bahwa ia hanya melaksanakan perintah dari seseorang. Sebelum Masnuri menyebut nama orang yang ia maksud, muncullah Wiwan di kantor polsek tersebut. Dengan menyesal, Wiwan mengakui akan perbuatannya. Narava pun kaget melihat kenyataan yang ia lihat di depan matanya. Tetapi Narava teringat lagi akan diari yang Reno tulis. Lalu Wiwan pun menceritakan kronologis kejadiannya.

“Dahulu, aku dan Reno adalah dua orang yang selalu bersaing jika berurusan dengan mesin. Suatu hari aku melihat Reno kedatangan tamu asing. Dilihat dari wajahnya dan cara bicaranya, aku menduga bahwa tamu itu adalah orang luar negeri. Entah negeri mana itu aku belum tahu pasti. Beberapa hari telah berlalu. Aku pun diceritai oleh Reno bahwa ia telah dibiayai sepenuhnya oleh tamu asing kemarin. Karena mereka terkesan oleh kreasi Reno yang memang ramah lingkungan dan efisien. Mengenai mesin impiannya yang memang memerlukan biaya tinggi. Tetapi dengan bantuan finansial dari tamu asing itu, Reno berhasil menciptakan mesin yang sangat irit dan langsung saja mengalahkan semua mesin yang menjadi lawannya di tingkat kabupaten bahkan nasional. Dan saatnya ia berangkat ke Jepang.

Sebenarnya dalam hati, aku sangat iri dan benci melihat keberuntungan Reno itu. Betapa tidak, kenapa bisa ada orang asing sampai datang ke rumahnya dan benar-benar membantunya. Ini sungguh di luar prediksiku. Kenapa tidak aku saja yang memiliki keberuntungan semacam itu ?. Dan hal itu membuatnya langsung mengalahkan semua pesaingnya di tingkat kabupaten sampai nasional. Saat itu sepertinya aku telah dirasuki oleh perasaan ingin menghancurkan, meluluhlantahkan, bahkan membinasakan Reno beserta bengkelnya sekalian. Pada suatu hari, ketika aku tahu ia sedang sendirian, aku pun menyuruh anak buahku untuk menaruh bubuk mesiu ke dalam bengkelnya Reno. Taburkan saja ke semua sudut bengkel. Agar bisa terbakar semuanya. Dan inilah, api kemarahanku telah aku nyalakan. Dendam kebencianku telah maju menjalar untuk memangsa Reno. Pada akhirnya terbakarlah bengkel Reno.

Setelah kebakaran itu terjadi, aku bersama Narava melihat secara dekat bengkel Reno. Sebenarnya itu hanya trik untuk menyembunyikan perbuatan kejiku. Sambil menenangkan Narava yang telah jatuh ke dalam jurang kesedihannya”.

            Mendengar semua penjelasan dari Wiwan itu, Narava tidak dapat menahan diri lagi. Tetapi polisi segera bertindak dan mengamankan Wiwan. Sebelum dimasukkan ke dalam penjara, Wiwan meminta satu permohonan kepada polisi untuk membebaskan Masnuri. Bahwa ia akan menanggung semua perbuatannya. Polisi pun menyetujui hal itu.

            Setelah itu, Narava segera menuju ke makam Reno. Sambil mengatakan sesuatu kepadanya.
“Reno, apa kau sudah dengar kabarnya ?. Bahwa Teman kita yaitu Wiwanlah yang menjadi dalang atas kasus pembakaran dan pembunuhanmu. Sungguh ironis bukan ?. Aku juga tidak pernah menyangka. Bahwa seorang teman sampai tega melakukan hal itu. Aku harap kamu bisa segera tenang di sana. Semuanya telah beres. Semoga kita bisa bertemu di lain kesempatan”.


TAMAT