Potret Alam

Kabut yang menyerang hutan.

Potret Alam

Penyerangan masih berlanjut.

Potret Alam

Pohon-pohon juga terserang.

Potret Alam

Jalan menjadi berselimut kabut.

Potret Alam

Hutan kian berkabut tebal.

Showing posts with label Pengalaman. Show all posts
Showing posts with label Pengalaman. Show all posts

Wednesday, 29 October 2014

Tentang LPM Kentingan dua Tahun ini

Tentang LPM Kentingan dua Tahun ini


Ini hanyalah cerita yang datang dari diriku. Cerita yang teramat sangat indah. Sangat mengena sampai dalam hati. Sampai ke seluruh jiwa dan raga. Seluruh kisah yang ‘kan coba kurangkum dalam catatan ini.

            Alkisah, hiduplah seseorang yang sedang menjalani kehidupan yang sangat membosankan. Di waktu akhir-akhir sebelum tamat dari jurusan menyusahkan. Ia berusaha untuk mengejar hal yang ingin ia kejar sewaktu tiga tahun yang lalu. Dan bagaimanakah kisahnya yang sebenarnya ?
***

            Ini semua dimulai dari setelah keterima ujian SNMPTN 2012. Ketika aku memilih jurusan DKV dan Sastra Daerah. Pilihan pertama itu berada di UM Malang. Sementara yang kedua adalah UNS Surakarta. Entah naas atau beruntung, aku diterima di UNS. Lalu, kisah tentang judul yang kutulis ini pun dimulai.

            Waktu awal masuk kuliah adalah momen paling kukenang. Inilah kehidupanku yang serasa berbeda. Jauh dari tanah kelahiran. Kuliah. Aku tak terpengaruh ajakan siapa pun, atau pun iklan-iklan yang menjamur. Alhamdulilahnya kedua orang tuaku menyetujui keputusan ini. Dan kulangkahkan kakiku ke Solo. Tiada teman dari rumah. Tetapi momen sendirian membuatku bisa segera menyesuaikan diri dengan keadaan kampus ini. Lalu waktunya mengenakan almamater dan menuju ke Student Center.

            Di tempat yang dipenuhi oleh berbagai mahasiswa dari beberapa jurusan pun berkumpul. Berkumpul untuk melihat expo Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) tingkat universitas. Sejujurnya, entah aku yang tidak terlalu fokus atau entah ada apa, aku tidak terlalu melihat keseluruhan presentasi dari tiap-tiap UKM yang tampil. Meski begitu, feeling awalku mengatakan, “kau harus mengejar sesuatu yang tidak kau dapatkan sewaktu tiga tahun yang lalu, dan juga yang gagal kau dapatkan sewaktu mendaftar SNMPTN”. Satu-satunya UKM yang sangat tepat untuk mengganti ‘sesuatu’ yang gagal kudapatkan hanyalah LPM Kentingan. Sebuah lembaga pers mahasiswa yang rumornya berisi bidang-bidang tentang teknik fotografi, desain, dan tentunya menggambar. Sekiranya hanya itulah yang terlintas dibenakku akan LPM Kentingan. Dan aku sangat ingin segera mendaftar. Tak kupedulikan teman-temanku. Ketika sedang berkeliling melihat stand-stand yang berjejeran, aku pun melihat gubuk yang bertuliskan nama UKM itu. Seketika itu juga, kudatangi dengan sangat bersemangat.

            Di sana aku pun disambut ramah sekali. Aku pun banyak berbincang mengenai apa-apa saja yang ada di LPM Kentingan. Setelah formulir kutulis lengkap, aku pun diberitahu tentang waktu pra-marka. Itu adalah waktu ketika pengenalan LPM Kentingan tahap awal. Dan inilah saatnya ‘tuk kembali meraih mimpiku yang sejak lama gagal terwujud. Lalu waktu yang kunantikan pun tiba. Aku masih ingat betul ketika itu. Sore-sore aku berjalan menuju lantai 2 SC. Tepat di depanku ada seorang perempuan yang berjalan. Aku pun juga berjalan dengan tempo yang hampir sama. Alangkah anehnya ia juga melangkahkan kedua kakinya ke tangga. Feeling-ku mengatakan ia juga akan ke pra-marka. Dan ternyata dugaanku benar. Setelah mengisi absen, kulihat hanya sedikit sekali yang datang. Atau bisa kukatakan bisa dihitung dengan jari tangan. Dan parahnya lagi aku adalah laki-laki yang pertama datang. Dalam hati aku berpikir. “aku sudah datang tepat waktu. Ini jamnya yang salah atau akunya yang salah ? ah sudahlah. Aku tak peduli, yang penting segera kondisikan saja”. Singkat cerita aku pun mengenal sesosok cewek yang tadi. Namanya adalah Putri Ajeng Pratiwi, jurusan akuntansi angkatan 2012. Ia adalah orang pertama dari pra-marka yang kukenal. Singkat cerita lagi, acara pun dimulai. Banyak sekali yang datang. Meski telah berkenalan dengan beberapa orang, entah kenapa, yang kuingat sampai sekarang hanya orang pertama yang aku kenal waktu pra-marka itu. Lanjut mengenai acara. Menurutku, acaranya lumayan. Atau karena pak Pemimpin Umum (PU) waktu itu sangat kece sekali. Tiba-tiba ambruk tidak jelas. Mengenai hal itu, aku pun tidak bisa menjelaskannya. Ah sudahlah. Yang penting acara pra-marka telah kulalui.

            Lanjut ke marka 1. Di situ ada materi tentang straigh news atau berita lurus secara arti harfiah. Tetapi lebih tepat disebut berita kilat karena durasinya sangat singkat. Cepat basi jika dibaca beberapa hari setelah ditulis. Komposisinya harus dari yang sangat penting menuju ke tulisan pendukung-pendukung informasi. Tulisan memakai bahasa baku. Bisa hanya beberapa paragraf saja. Dan katanya bisa diselesaikan hanya beberapa menit saja. Lalu intinya adalah semua yang datang diwajibkan menulis straigh news. Waktunya sekitar tiga hari kalau tidak salah. Aku pun menulis tentang keadaan lampu merah di gerbang belakang kampus UNS yang sudah tidak dipatuhi lagi. Setelah mendapatkan foto yang kompeten, segera kutulis berita kilat tersebut. Lalu kukumpulkan di pertemuan selanjutnya yaitu marka 2.

            Di marka 2 ini ada materi lagi yaitu feature. Sebuah tulisan yang sangat berbeda komposisinya jika dibandingkan dengan berita kilat. To be continued ...

Wednesday, 22 October 2014

Membuka Pintu Ketujuh Kehidupan

Membuka Pintu Ketujuh Kehidupan
            Hari sabtu, 4 Oktober 2014, aku bercerita. Sebuah cerita yang ‘kan kukenang. Kukenang nanti di hari tua. Hari yang buat kita semua ‘kan teringat. Teringat tentang segala memori indah. Begitu indah nan tak terlupakan.

            Cerita ini kumulai dari awal. Awal kuliah yang begitu indah. Semester satu sampai empat kulalui. Kufokuskan ke berbagai organisasi. Konsentrasi ke kuliah dan berbagai materinya. Terkadang kuluangkan waktuku ‘tuk pergi jalan-jalan. Meski tak sesering teman-temanku yang lain. Dan sekarang ini, semester lima yang ada di depan mata. Di umur yang sudah tepat berkepala dua. Seperti yang pernah kukatakan dulu. “Hidup itu buatlah laksana pelangi, kuliah kulalui, organisasi kuikuti, liburan kujalani, jalan-jalan kusempatkan, bisnis kulakukan, membaca menulis menggambar kurutinkan, dan akhirnya kerja pun sedang kucoba.

            Untuk yang enam warna awal, sudah aku jalani semuanya pada pertengahan kuliah ini. Di saat berbagai kebutuhan mendesak, mau tak mau harus bisa menghampiri uang dari hasil sendiri. Hasil bisnis yang tidak tentu. Apa aku harus selalu minta terus ? Sampai kapan kau bisa berdiri sendiri ? Dan berbagai pertanyaan yang lain selalu menghantuiku seseram setan gentayangan. Kucoba kupikirkan lagi. Aku masih ada waktu setahun sebelum terjun ke jurang skripsi yang entah terjal atau curam. ‘Kan kugunakan setahun ini untuk kerja. Kerja apalah itu yang penting bisa hasil. Meski banyak sekali konsekuensinya. Toh seperti yang telah aku tulis di atas, pelangi itu ada tujuh warna. Jika masih enam warna, hidupmu belum bisa kusebut pelangi.

            Lalu masuk ke pintu ke tujuh di dalam hidupku. Pintu yang entah bisa menutup atau membuka pintu yang lain. Demi menuju tingkat tujuh, ‘kan kutanggung segala resikonya. Besar atau kecil. Kerja. Aku dan salah satu sahabatku, telah mendapatkan pekerjaan. Bisa dibilang lumayan tidak begitu berat untukku. Karena tempat kami yang berbeda. Aku hanya menunggu kios makanan dari negeri sakura. Takoyaki namanya. Harganya yang selangit dan beda jauh dengan hidangan HIK (Hidangan Istimewa Kampung) membuat pengunjungnya tidak terlalu banyak. Hanya orang-orang yang tertentu saja. Jam kerjanya dimulai pukul 1 sampai 9 malam yang seperti dua wajah. Wajah depan yaitu efek positifnya. Sesuai dengan jadwal kuliah. Jam 9 malam tidak terlalu buruk karena tidak terlalu malam. Wajah belakang yaitu efek negatifnya. Jam-jam itu biasanya aku pergi ke ruang komputer perpus pusat untuk dapatkan internet gratis. Dan terpotonglah kesempatan tiap hari itu. Biasanya organisasi yang aku pegang sekarang. LPM Kentingan terpaksa aku tinggalkan sementara kecuali hari sabtu dan minggu. Lalu tiap sore biasanya juga voli di lapangan asrama. Dan kutinggal salah satu olahraga yang kusenangi itu. Wah, apakah efek-efek lainnya ya ?

            Salah satu hal yang sulit sekali aku lepaskan adalah warna kedua. Pintu kedua itu juga bisa membuka pintu ketiga, keempat, dan keenam. Bagiku, organisasi itu yang paling berkesan dan ‘kan masuk dalam memori dalam yang terproteksi sampai akhir nanti. Berbagai kenalan baru yang menjadi teman akrab sangat banyak. Mahasiswa semua fakultas ada di dalamnya. Beberapa kegiatannya sangat mengasyikkan. Bahkan liputan bisa sambil jalan-jalan. Dan masih banyak lagi yang telah kulalui. Aku rasa tidak terlalu buruk jika aku tinggal untuk sementara. Pun semester tujuh nanti aku berencana berhenti kerja. Dan bisa kembali terjun ke mana pun aku suka. Tentu tanpa melupakan tugas utama. Skripsi yang jadi fokus pertama.

            Dan kembali ke pekerjaan. Di sana aku mencatat pesanan sambil membuatnya. Layaknya tugasnya Squidward dan Spongebob di Krusty Krab. Tidak terlalu rumit. Hanya saja bisa menyusahkan jika ada empat pesanan dalam waktu berdekatan. Karena hanya muat tiga porsi dalam satu wajan. Jika pembeli belum datang, ada efek yang luar biasa yang aku dapatkan. Efek yang belum tentu kudapatkan jika aku bekerja di tempat lain. Bahkan setelah kehidupan kuliah ini. Dalam satu hari, aku bisa membaca sampai 80 halaman atau bahkan bisa lebih. Buku yang berhalaman sekitar 300 pun bisa selesai dalam waktu tidak sampai empat hari penuh. Seperti kata salah satu dosenku. Kiranya seperti ini. “Kau yang masih semester awal ini, perbanyaklah membaca buku. Karena belum tentu kau bisa punya waktu membaca jika sudah dihadapkan dengan skripsi”. Dan semoga sampai akhir semester lima ini berakhir, aku yang berencana ganti pekerjaan lain, harus kuselesaikan berpuluh-puluh buku yang belum sempat kubaca. Semoga saja.

            Selain untuk melengkapi hidupku untuk bisa indah laksana pelangi, jelas ada tujuan lain yang ingin aku targetkan. Sesuai tema awal. Kerja. Niat awal yaitu kuingin beli laptop lagi. Setelah menghilangkan laptop pertamaku. Laptopku yang sekarang adalah sebagian dari uang liburan idul fitri kemarin. Dengan layar 10 inci, RAM 1 Gb, Hardisk 160 Gb, baterai cepat habis, dan sepertinya kurang kompeten untuk kegemaranku sekarang ini. Dari kegemaranku bermain dengan desain, aku perlu coreldraw dan photoshop. Dan semua program itu memerlukan RAM lebih besar dan layar besar pula. Dan yang sangat menggangguku sekarang adalah Hardisk hanya 160 Gb sangat kurang untuk pengoleksi film anime sepertiku. Terpaksa aku titipkan dulu ke Hardisknya temanku. Yang lumayan menyusahkan lagi adalah betapa lambatnya kinerja netbook ini. Apalagi jika sedang terkoneksi dengan internet, menjadi sama cepatnya dengan siput yang sedang naik ke batang pohon. Meski begitu, uniknya netbook ini belum terkena virus yang menyakitkan. Praktis belum pernah instal ulang. Dan aku harus sabar untuk mendapatkan laptop lagi. Cepat atau lambat.

            Tujuan lain adalah tujuan kecil. Atau bisa kukatakan hanya keinginan sesaat. Seperti ingin beli jersey Liverpool. Dikarenakan performa si Merah yang agak redup, redup pulalah niatku ‘tuk beli seragam kebesarannya. Lalu juga ingin beli raket untuk bermain badminton. Memang, badminton adalah olahraga favoritku. Dan aku juga ingin beli berbagai buku-buku. Untuk segera aku selesaikan dalam waktu sekejap di tempat kerja. Jika ada waktu, aku juga ingin jalan-jalan ke tempat yang belum pernah aku datangi. Memang aku dulunya tidak terlalu senang jalan-jalan. Itu karena uang yang seharusnya bisa untuk makan beberapa hari, bisa ludes terbakar di tangki bensin dan lain sebagainya. Tetapi jika sudah ada uang hasil sendiri, Why not, baby ?

            Dan tak lupa, akhir pekan ini adalah liburan idul adha. Praktis untuk pertama kalinya aku tidak pulang kampung untuk merayakan hari raya. Entahlah, kurang lebih 19 tahun aku berada di rumah untuk menyaksikan idul adha. Tak apalah. Yang aku pegang di sini adalah, jika aku telah menentukan sesuatu, maka segala resikonya akan kutanggung. Memang berat meninggalkan organisasi, liburan, jalan-jalan, dan sebagainya. Tetapi demi masa depan. Dan ini akan jadi cerita indah di masa tua untuk anak cucuku nanti.

“Raihlah pelangi kehidupanmu ...”

Henri Firmansah

Monday, 30 June 2014

Desain Gila di Bulan Juni



Desain Gila di Bulan Juni

            Selamat datang di blogku lagi guys, gimana kabarnya ? Masih seterong buat menahan pandangan kepada lawan jenis kan ? (khusus yang puasa) Haha. Pokokmen kowe kudu kuat, kudu sabar, nganti adzan. Halah, kakehan pembukaan. Yuk mari menuju ke gerbang kehidupanku. Kehidupan yang teramat sangat mengerikan banget(ah lebay). Nanti akan membahas tentang kegiatan seni grafis. Lebih tepatnya adalah mendesain suatu buletin dan buku. Mangga pinarak rumiyen.

            Bulan Juni. Entah kenapa, siapa yang tahu, bulan-bulan yang biasanya aku sering mendapatkan waktu untuk menulis, kali ini lumayan berbeda. Sejujurnya aku asik-asik aja kalau disuruh(atau inisiatif sendiri) dalam mendesain. Entah itu poster, pamflet, dll. Dan inilah masalah besarnya. Waktu yang diberikan padaku untuk menyelesaikan desain sangatlah singkat(atau bahkan membuat waktu tidur dan bermainku hilang entah digerogoti oleh siapa). Lalu, ada dua proyek yang ‘diserahkan’ padaku di bulan Juni yang indah ini. Pertama adalah mendesain majalah singkat atau biasa disebut buletin. Yuk, mari menuju ke bilik yang pertama.

            Ini adalah proyek pertama mendesain yang lumayan tidak terdefinisikan bagaimana rasanya. Entahlah, karena jujur aku juga suka proyek yang satu ini karena aku juga sebagai “Pemimpin Redaksi”. Tetapi yang aneh di sini adalah, seorang yang berpangkat tinggi(upps, maaf, harusnya ada sensor, haha) merangkap beberapa bagian dalam pembuatan buletin. Memang benar, aku juga memasukkan cerpenku beserta ilustrasinya, ia ilustrasi. Lalu sebagai editor pula. Praktis dalam susunan ‘aktor dibalik layar’ buletin, namaku muncul entah berapa kali aku malah lupa. Sebagai pimred, layouter dan ilustrasi. Wah, ternyata muncul sebanyak tiga kali. Kurasa ini terlalu ‘aneh’ untuk dipandang. Meski demikian, dikarenakan personil awalnya yang hanya lima orang, ia lima, just five. Apa boleh buat. Dan masalah utamanya bukan itu. Melainkan ada di paragraf setelah ini. (wah, maaf ya guys, tadi itu aku cuma ingin curhat sedikit saja, tidak banyak kok, gakpapa kan ?)

            Mendesain buletin. Mulai dari cover dan konten-konten buletin seperti Salam Redaksi, Profil, Jendela Sastra, dan terakhir Sastrasiana.(maaf semuanya, ini sedikit mencontoh dari rubrik yang ada di koran Kompas itu lo. Keren kan ?) Mendesain cover, bagiku membutuhkan waktu yang paling lama daripada yang lain. Dikarenakan banyak pertimbangan. Menarik pembaca, sederhana, keren, jelas, mengena dengan tema, berfilosofis kalau bisa, lain dari yang lain , dan lain-lain. Di dalam kebuntuan ini, muncullah ‘pahlawan tanpa tanda’ yang memberiku ide bagus untuk cover. Ia katakan padaku untuk menjadikan cover pada naskah Jawa zaman dulu untuk dijadikan halaman pembuka. Wah, ini ide keren. Lalu tulisan aksara Jawanya dibuat blur. Dikarenakan tema dari buletin ini adalah “Ada apa dengan sastra ?” sangat kontras sekali. Lalu, dengan sedikit perombakan edit sana sini, jadilah ‘anak yang pertama’. Berlanjut ke bagian yang lain. Ini akan dijelaskan secara singkat pada paragraf berikutnya, ia berikutnya, see you.

            Welcome again, guys. Ini adalah kelanjutan terakhir dari mendesain buletin. Intinya pada halaman setelah cover itu hanya menata letak tulisan agar bisa penuh di kertas A3 dibagi 2 alias A4. Jadi aku variasi letak kolomnya. Aku rapatkan yang satu, aku renggangkan yang lain. Terkadang aku tambahi kutipan dengan font yang besar. Dan satu hal lagi yang keliru di sini adalah ketika tata letak puisi. Dikarenakan kekurangpahamanku tentang line spacing pada corel, membuat rubrik puisi tata layout-nya kacau. Bagian profil juga kacau karena kesalahan sedikit tentang drop caps. Selebihnya sudah lumayan. Dan satu pelajaran penting di buletin ini adalah penggunaan font yang hanya 8 sangatlah buruk. Lain kali kutingkatkan ukurannya deh, kalian tenang saja guys. Baiklah, dengan begini bagian pertama telah selesai. Berlanjut ke proyek absurd part 2.

            Selamat datang di curhat proyek yang kedua, para pembaca yang beriman, ia beriman, semoga imannya kuat ketika diterpa badai godaan lawan jenis ya, haha. Ah sudahlah, ini adalah mendesain yang bagiku cukup ‘gilaaaaaa’. Maaf sebelumnya. Bukannya aku tidak ikhlas. Melainkan ini bagiku tidak sekadar me-layout saja. Benar, selain mendesain, aku juga merangkap sebagai penulis(lebih dari 50% isi buku kalau gx salah) dan lagi-lagi editor. Jadi ceritanya bermula ketika para equalist sedang menyerang Repulic City(haha, ini bukan cerita Avatar Korra). Ini adalah cerita komputer Jawa. Ketika tugas akhir berjudul “Kata Mutiara Bahasa Jawa” yang waktunya panjang namun tidak segera dikerjakan. Sebenarnya hanya sedikit. Seperti contoh di bawah ini.

Cedhak kebo gupak
?cedkKe[bogupk\?
“Dekat dengan orang perbuatannya tidak baik, pasti ikut berbuat tidak baik”
Jangan dekat dengan orang yang berbuat tidak baik karena bisa terkena imbasnya.

            Per anak mendapat bagian yang sama. Ada sebanyak 33 anak yang mengikuti kuliah ini. Dan kulihat hanya sebagian kecil saja yang mengirimkan tugasnya itu kepada si editor. Yang seharusnya semuanya, ia semuanya. Bukan hanya kamu saja, ia kamu, haha. Dikarenakan deadline yang singkat, apa boleh buat, aku kerjakan hampir semuanya. Ini adalah proses paling membosankan yang aku jalani. Berada di perpus pusat di ruang komputernya yang gratis dan cepat, aku duduk terpaku tetapi tidak berada disampingmu. Wah, nasibku. TRAGIS. Setelah selesai, aku segera mendesain cover. Kucoba mencari mutiara dengan format cdr(format untuk corel). Setelah ketemu, karena terinspirasi dari desain cover buku antologi cerpen Lpm Kentingan yang menggunakan titik(.) dan koma(,) mirip bunga dandylion kombinasi dengan bunga matahari, kubuat halaman depan buku tugas akhir ini. Lalu jadilah cover yang bagiku sangat keren. Lalu bagian belakang pula. Hanya kuberi dua floral. Seperti ini.

            Setelah halaman awal dan akhir dunia telah selesai, ini adalah pekerjaan selanjutnya yang memakan waktu lama dan super membosankan. Menata sebanyak 17 halaman dibagi 2. Total 34 halaman yang aku tata. Mulai dari penempatan tulisan, agar terlihat serasi. Di samping itu, aku juga melakukan editing atau pembenaran jika ada tulisan yang salah. Ini adalah tahap yang memerlukan kejelian dan harus dilakukan berulang-ulang. Dan masalahnya adalah, sebanyak aku melakukukan editing, selalu saja ada kesalahan yang terlihat. Mungkin aku orang yang kurang teliti. Entah berapa banyak aku melihat ulang tulisan-tulisan itu, lalu karena juga mempertimbangkan batas akhir pengumpulan, kuputuskan untuk segera menyelesaikan kegilaan ini.

            Tahap selanjutnya adalah pembuatan nomor halaman. Ini adalah bagian yang lumayan harus memakai otak. Karena aku harus membuat nomor absen 1 dan seterusnya tidak terpencar. Intinya urutan absen dengan halaman harus benar. Lalu kubuat simulasi kecil dengan menggunakan kertas. Kubuat replika bukunya. Dan menomori halamannya. Setelahnya, aku tinggal memindahkan anak yang absennya 33 dengan di sampingnya adalah salam pembuka, absen 32 dengan absen 1, absen 2 dengan absen 31, dan seterusnya. Selesai dengan halaman, kucoba melihat-lihat lagi alias mengedit jika masih ada yang luput dari penglihatanku. Sambil memasukkan revisi dari anak yang meng-upload tugasnya di grup. Terkadang aku juga sering melihat-lihat cover-nya. Ada sedikit yang aneh, lalu kuperbaiki. Dan berakhirlah membuat buku ini.

            Akhir kata, aku hanya akan menyarankan kepada siapa saja yang membaca ini. Jika kalian tidak menjadi tukang edit, kalian harus tahu berapa waktu yang dibutuhkan oleh tukang layout untuk melakukan tugasnya. Jadi, data harus segera masuk, dan bukannya terlambat atau tidak peduli sama sekali(maaf sepertinya aku terlalu lancang). Tetapi memang benar, tugas layouter hanyalah mendesain saja. Bukan menulis hampir semuanya. Kalian harus tahu hal itu. Dan satu lagi. Bagaimana jika aku tidak mengaku jika aku bisa mendesain, bagaimana jadinya ya ? Aku takkan menjawab. Kalian sendirilah yang harus memikirkannya.

            Sebelum kuakhiri semua ini, aku akan mengatakan satu hal lagi. Lain kali jika butuh bantuanku atau teman lain yang bisa me-layout, kalian harus mengatur jadwal sedemikian rupa agar yang diberi tugas tidak tertekan. Contohlah ketika melihat pembuatan majalah dan buletin oleh suatu lembaga. Seperti halnya pers. Mereka punya jadwal penulisan, pengeditan, lalu tahap layouting, dan terakhir produksi. Pokoke kowe kudu ngreti, ora oleh omong ora mudheng, kudu berperasaan, hahaha. Dan kuucapkan terima kasih karena mau membaca sampai kata ‘ini’. Kalian memang mengerti aku, aku jadi tersipu, jadi terharu, jadi terkesan. Kalian baik sekali padaku ternyata. Lalu, selamat menjalani hari-hari liburan. Tetapi juga liburan(bagi yang puasa) menonton wajah setan. [#####]

Friday, 28 February 2014

Pengalaman Berbisnis Takterlupakan

Pengalaman Berbisnis Takterlupakan


“Percayalah, semua itu bukanlah akhir dari dunia”
“Gagal, bukanlah alasan untuk tidak bangkit lagi”
“Salah, bahwa tidak selamanya semuanya benar”
“Bodoh, itulah awal dari sebuah perjalanan menuju cerdas”


Hari ini, Sabtu tanggal 1 Maret 2014, kutulis sebuah catatan pengalaman ini. Kulihat mentari masih malu-malu untuk menunjukkan wajah cerahnya. Entahlah, kurasa itu bukan salahnya. Awan yang tebal menutupi seluruh langit pagi ini. Dan di sinilah aku. Mengumpulkan beberapa ingatan akan pengalaman yang berharga dan akan menjadi bahasan pada tulisan ini. Semoga ini bisa menjadi acuan agar kita bisa lebih berhati-hati lagi lain kesempatan, dan tentunya semakin baik, amin.


            Aku, sekarang ini yang sedang menjalani beberapa kesibukan dalam satu waktu. Salah satunya adalah menjalankan bisnis berdagang kaos. Dulu ide ini muncul ketika menjelang tahun baru 2014. Temanku dari kota kelahiranku, yaitu kota reog yang bernama Bayu. Adalah penggagas ide desain untuk memulai berbisnis kaos ini. Momen tahun baru ditambahi gambar reog akan menjadi desain depan kaos kala itu. Karena waktunya juga tidak terlalu efektif. Yaitu ide muncul akhir November. Dengan cepat aku segera membuat desain dan langsung diposting tepat awal Desember. Aku dan Bayu pun giat berposting di berbagai grup facebook dan secara face to face. Kami pun hanya membatasi waktu promosi yaitu seminggu. Sekitar dua minggu untuk penyablonan. Targetnya pun kami berdua patok semoga dalam kurun waktu itu ada pesanan minimal 12 biji. Lalu, apa yang terjadi selanjutnya ?


            Singkatnya aku akhirnya menerima total 17 orderan dari berbagai orang dalam kurun waktu yang sangat singkat itu. Untuk kebutuhan arsip maka aku juga mencetak satu buah. Jadi total jumlah kaos yang akan masuk percetakan yaitu 18. Semuanya tampak lancar-lancar saja. Meski begitu, cuaca kala itu yang tidak terlalu bersahabat membuat waktu penyablonan yang seharusnya bisa seminggu selesai malah diundur menjadi sekitar dua minggu. Dan inilah kesalahan yang takkan pernah kulupakan. Dibalik tulisan 2014 ada bayang-bayang yang tidak terlihat. Setelah tercetak, bayangan itu muncul dan membuat angka 2014 tampak ada efek glow. Tak apalah. Anggap saja pengalaman. Bahwa perlu kejelian ketika proses pendesainan. Karena hampir tahun baru, maka aku segera pulang untuk mengantarkan pesanan kaos itu karena kebanyakan yang membeli adalah warga Ponorogo. Dan seperti apakah reaksi para pelanggan ?

            Inilah kali pertama rasanya bertemu dengan pelanggan secara langsung. Dengan berbagai penjelasan, aku dan Bayu saat itu tidak menyangka. Ternyata para pelanggan tidak protes sama sekali melihat hal yang kami berdua sebut kesalahan itu. Anggap saja ada efek glow-nya, haha. Setelah proyek pertama sepertinya belum 100% sukses, tetapi aku dan Bayu menganggap hal itu adalah pengalaman pertama. Berangkat dari kisah pertama, aku dan Bayu pun segera merencanakan proyek kedua. Seperti apakah proyek itu ?


            Satu lagi ilmu yang aku dapatkan dari percetakan. Yaitu pakailah format vector1 untuk kualitas sablon yang bagus. Gambar reog itu bukanlah vector melainkan gambar biasa berformat pixel2. Proyek kedua adalah kaos bertema go green. Aku sering mencari gambar yang banyak mengandung makna penghijauan itu. Akhirnya aku dan Bayu pun segera mendesain kaos proyek kedua itu. Dan hasilnya keren sekali. Segera desain itu aku promosikan. Tetapi kali ini peminatnya tidak banyak sama sekali. Alhasil singkatnya kami berdua membatalkan proyek kedua. Meski begitu, ketika Bayu memakai kaos reog itu ketika di keramaian, banyak orang yang minat untuk membelinya. Akhirnya, motif penjualan salah satunya adalah mengikuti keinginan pelanggan, kami pun segera mendesain ulang kaos reog seperti halnya pada proyek pertama. Bagaimanakah perjalanan proyek ketiga ini ?


            Dengan desain yang tidak berbeda jauh dari proyek perdana, hanya ada ide untuk penambahan efek glow in the dark3. Masa promosi pun lumayan lama. Tetapi tidak terlalu disambar oleh para peminat di dunia maya. Tetapi satu hal yang membuat kami berdua melanjutkan promosi adalah adanya pelanggan yang memesan tiga kaos apalagi sudah membayar lunas. Lalu kami tambah masa promosi jadi dua minggu. Aku juga menghubungi beberapa temanku yang mungkin berminat untuk membelinya. Dan ternyata mereka pun tertarik untuk membelinya. Meski belum membayar DP. Yang penting ada orderan. Dan juga ada satu pengalaman lagi. Yaitu seharusnya aku membeli kain sendiri agar bisa meminimalisir biaya produksi. Aku segera membeli kain seberat 4kg lalu menyerahkannya kepada penjahit agar segera dibuat kaos polosnya. Setelah jadi, aku segera bertanya kepada percetakan katakanlah namanya A. Karena sedang menerima orderan banyak sekali, aku harus mengganti tempat percetakan. Di manakah tempat percetakan yang lain ?

            Setelah diberitahu oleh percetakan A tempat alternatif lain untuk penyablonan, aku segera berangkat ke sana keesokannya. Lalu aku telah sampai di percetakan B. Letaknya lumayan terpencil dari pusat kota. Dengan proses yang lumayan sama, aku menyerahkan desainnya. Satu info mengejutkan yang aku dapat. Biaya jahit di situ ternyata setengah lebih murah daripada penjahit ketika aku menjahitkan kaos polos itu. Lalu ada info lagi. Ternyata kaos polos sangat sulit untuk disablon. Karena telah terlanjur, maka itulah pengalaman. Satu lagi, yaitu biaya penyablonan gambar reog ternyata membludak. Mungkin setelah ini aku akan beralih ke vector apa pun yang terjadi, sudah kapok menggunakan gambar pixel. Meski sekarang masih dalam proses penyablonan, semoga hasilnya tidak buruk. Dan untuk ke depannya, aku dan Bayu pun mengambil beberapa pengalaman penting akan hal ini.

Pengalaman penting yang kami dapatkan ;
1       1. Jangan melupakan hal yang sepele seperti bayangan yang terdapat dalam desain
2     2. Jangan membuat kaos polos dahulu, sebaiknya membeli kain dan diserahkan kepada percetakan agar memudahkannya dalam penyablonan
3      3. Pakailah vector daripada gambar pixel, karena berpengaruh kepada biaya dan hasil
4      4. Cermat-cermatlah dalam memilih penjahit karena harga akan menentukan biaya pengeluaran
5   5. Janganlah terlalu sering menggunakan glow in the dark. Karena biayanya bisa membludak karena mahalnya tinta itu

Keterangan ;
1     1. Vector : gambar dari CorelDRAW atau Adobe Illustrator yang berformat cdr, eps, dan ai. Jika diperbesar sampai ukuran berapa pun, tidak akan pecah sehingga bisa dipakai untuk mencetak gambar sampai beberapa meter.
2        2. Pixel : gambar yang berformat seperti jpg, png, gif, dan lain-lain. Jika diperbesar akan pecah sehingga tidak baik untuk dibuat ukuran besar.
3       3. Glow in the dark : sebuah tinta sablon dari fosfor yang membuat gambar atau tulisan pada kaos bisa terlihat bersinar ketika berada dalam kegelapan.
Ini adalah contoh kaos dengan efek glow in the dark.

Friday, 14 February 2014

Flashback Detik-Detik SNMPTN


Flashback Detik-Detik SNMPTN


            Ladies and gentleman, aku ucapkan sekali lagi selamat datang di rumahku ini. Rumah penuh dengan cerita dari berbagai zaman, hehehe. Ada masa lalu, ada masa sekarang, bisa jadi ada masa depan. Lalu selamat menikmati hidangan yang sudah aku sediakan. Meski hanya sebatas tulisan yang gx jelas dan kebanyakan curhat ini. Tetapi inilah salah satu bagian dari kehidupan. Orang akan merasa lega jika sudah mencurhatkan semua masalah atau pun pengalamannya. Begitu juga dengan aku. Berbicara mengenai curhat, kali ini aku akan bercerita tentang perjalanan sebelum berada di Universitas yang keren ini. Sebuah pengalaman yang takkan pernah terlupakan. Dan segera tirainya kita buka, putar filmnya, pop corn sudah ada di genggaman, silahkan menonton film yang paling berkesan ini, Ups salah. Yasudahlah. Selamat membaca. :D

Cerita ini dimulai ketika negara api mulai menyerangEh maaf, bukan itu opening-nya.
Ada-ada saja, hahaha. Cerita sebenarnya terjadi sebelum aku masuk ke jenjang SMA dan yang sederajat. Ketika itu ada beberapa pilihan SMK yang mempunyai berbagai jurusan. Tentu saja. Aku ingin memelajari tentang komputer. Khususnya dalam hal desain. Entah mengapa, instingku mengatakan aku harus menemukan SMK yang ada jurusan komputernya. Memang itulah awal dari semua ini.

Kutemukan SMKN 1 Jenangan. Tempatnya lumayan jauh dari rumahku. Jika rumahku di desa Purwosari, kecamatan Babadan, Ponorogo, sekolah itu letaknya di kecamatan Jenangan. Tanpa pikir panjang, aku segera mendaftar. Singkat cerita aku telah diterima di jurusan RPL. Singkatan dari Remuk, Pekok, Lemot1 Hahaha, hanya bercanda. Sebenarnya singkatan dari Rekayasa Perangkat Lunak. Wah, aneh tapi nyata. Apakah ini yang aku sebut salah jurusan ? Aku pun tak terlalu mengerti. Pokoknya aku tak mau membahas hal ini sampai aku menjelang SNMPTN. Tetapi curhat tetaplah curhat. Aku ungkapkan betapa kebencianku akan jurusan ini. Sudah memelajari kode-kode aneh, jarang mengolah desain, apalagi salah satu guru pengajarnya sama halnya seperti tahun baru Cina 2014. Hahaha, pikir aja sendiri maksudku itu. Karena itu pula, aku juga ingin segera mengakhiri mimpi buruk kenyataanku itu. Berangkat dari semangat itu, aku pun takkan bodoh lagi menyia-nyiakan kesempatan setelah aku lulus SMK. Dan, inilah perjalanan yang paling terasa yang telah menjadi judul curhatanku ini. Akan segera dimulai. Stay close and don’t leave now, ladies and gentleman.

Beberapa bulan menjelang kelulusan yaitu April, aku telah jauh-jauh hari memersiapkan materi yang akan diujikan pada SNMPTN. Mulai dari kumpulan soal dan pembahasan matematika, mencari artikel sejarah, ekonomi, geografi, dan sosiologi. Hmm, that’s right. Aku ingin mendaftar IPS di SNMPTN kali ini. Meski SMK-ku jurusan teknik itu bisa dikatakan golongan IPA, tetapi aku tidak terlalu minat dengan IPA. Hanya biologi saja, dan aku katakan tidak untuk yang lainnya. Karena targetku kali ini adalah impianku dulu yaitu multimedia yang berkenaan dengan desain. Maka pelajaran IPS yang harus aku kuasai. Latar belakang SMK yang terlalu banyak praktek daripada teori menjadi salah satu kendalaku dalam menghadapi ajang paling sulit untuk masuk ke perguruan tinggi favorit ini. Jika dipikir lagi, anak SMA akan menjadi lawan sulitmu untuk diterima di Universitas. Demikian juga dengan anak SMK akan menjadi rival beratmu jika ingin masuk ke Poliklinik, eh maksudnya Politeknik bro, haha.

Banyak sekali soal yang aku kerjakan. Bisa dapat dari referensi soal SNMPTN tahun lalu, bisa juga soal buatan suatu instansi. Dan ketika mendengarkan info dari salah satu temanku, dan aku rasa info itu seperti pengubah nasibku.

“Hen, kamu ingin belajar intensif SNMPTN ?”.
“Ia, bagaimana caranya ?”.
“Ikut les SSC aja. Singkatan dari Sony Sugema College. Aku beritahu ya, SSC itu lumayan keren lo. Di sana mentornya sangat profesional dan sangat cocok jika kamu ingin lolos ujian masuk Univ”.
“Wah, begitu ya. Haha, selama ini aku jarang ikut les. Oia, kapan daftarnya ?”.
“Begini, kamu fokus aja sama UAN. Setelah UAN usai, pendaftarannya dibuka. Nanti aku antar”.
“Hmm, makasih banget ya atas infonya. Semoga kita bisa melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi. Amin”.

Seperti itulah sekiranya sepenggal percakapan kala itu. Lalu, setelah UAN telah aku selesaikan, dengan harapan aku segera menyingkir dari sekolah itu. Memang itulah yang aku inginkan, hehehe. Berangkat dengan penuh keyakinan menuju tempat les. Dan inilah bagian cerita kali ini yang paling aku sukai. Hari minggu. Entah pagi atau siang aku juga agak lupa. Aku telah datang di tempat les. Aku dijadwalkan berada di suatu ruangan. Aku lihat masih sepi untuk kelas IPS. Dan wah, busett, mengerikan, menakjubkan, memesona sekali, membuatku sampai terbang tinggi ke awan. Dan apakah aku segitu lebaynya ya, haha. Aku bertemu dengan...

Dan aku harus memotong cerita bagian ini. Terlalu mengerikan jika aku ceritakan. Dan aku lanjutkan saja ceritanya.
Setelah sekitar 1,5 bulan mendapatkan materi-materi dan juga sering ujian simulasi SNMPTN, tiba saatnya untuk mendaftar ke Universitas pilihan. Dan jelas, aku memilih Jurusan DKV. Singkatan dari Desain Komunikasi Visual, di Universitas Negeri Malang, disingkat UM.
Satu lagi, yaitu pilihan alternatif yaitu Sastra Daerah di Univeristas Sebelas Maret, Solo. Dan aku mendapatkan tempat untuk ujian tulis yaitu di UMM, Universitas Muhammadiyah Malang. Dan untuk ujian keterampilan di UM. Setelah itu, aku beserta semua anak yang ikut les di SSC berdoa agar bisa lancar dan diterima di Universitas masing-masing. Amin. Perjalanan menegangkan dan inti dari cerita ini akan segera mulai. Jadi, bagi para penonton, dimohon bersiap-siap dengan segalanya apa pun yang terjadi. Wah, absurd banget. :D

Pagi itu. Minggu tanggal 10 Juni 2012, aku dan beberapa temanku seperjuangan berangkat dari tanah kelahiran untuk menuju ke medan pertempuran. Armada yang berangkat pun dibagi menjadi dua tujuan yang berbeda. Ada yang menuju ke Surabaya, ada yang menuju ke Malang. Aku dan sebagian orang naik mobil. Sementara sebagian besar naik bus. Dengan semangat membara ala prajurit 45, kami semua akan berusaha sekuat-kuatnya agar bisa mengalahkan musuh yang menghadang. Wah, narasinya seperti mau perang saja. Dasar, yang namanya Henri itu memang ada-ada saja selalu diada-adakan. Gakpapalah, hitung-hitung untuk penyegar suasana, haha. Singkat cerita, rombonganku telah sampai di kota apel. Tetapi kami tidak akan beli apel. Lebih penting dari itu.


Rombongan menuju asrama yang telah disewa di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Selain itu, rombongan juga mengunjungi Universitas Brawijaya, UMM, Universitas Merdeka Malang, juga melewati Universitas yang lainnya. Hari pun mulai malam. Waktu itu aku juga mulai belajar lagi untuk detik-detik yang kian dekat ini.


Hari perhelatan akbar pun dimulai. Hari selasa tanggal 12 Juni 2012. Tepatnya di salah satu gedung di UMM,
aku akan mulai menjalani salah satu momen-momen bersejarah dalam hidupku yang mungkin takkan pernah aku lupakan. Pagi-pagi jalanan telah ramai. Memang sudah terlihat. Sebanyak inikah saingan untuk masuk ke perguruan tinggi ? Entahlah. Dan semoga aku menjadi salah satu dari sekian banyaknya jiwa-jiwa yang beruntung dan berhasil lolos tes paling mengesankan ini, amin. Memang aku agak lupa. Seingatku jam pertama adalah matematika dasar lalu dilanjutkan tes potensia akademik. Dan matematika adalah pelajaran paling absurb dan menyedihkan juga membosankan nan terdengar tak berguna. Walau bagaimanapun, aku tetap harus bisa. Dengan memertaruhkan segalanya, aku pun mengerjakan soal-soal itu. Demikian pula untuk tes potensi akademik. Hari pertama telah aku jalani. Waktunya pulang lagi menuju tempat tinggal sementara. Hah, akhirnya bisa bernapas lega.


Hari selanjutnya. Rabu tanggal 13 Juni 2012. Masih di ruangan yang sama. Meski begitu ada satu perbedaan dari hari kemarin. Kalau kemarin jadwalnya pagi, kali ini jadwalnya agak siang. Jadi bisa sedikit bersantai dulu. Dan hari kedua adalah tes bidang studi IPS. Semoga tidak mengalami kesulitan yang berarti, semoga saja. Detik-detik menegangkan tahap dua akhrinya telah aku lalui. Bagaimanapun badai pasti berlalu, aku pun agaknya lega meski banyak jawaban yang tidak terlalu aku yakini benar. Tetapi harapanku adalah semoga keajaiban itu memang ada, lalu membawaku menuju tanah impianku. Lalu aku dan rombongan kembali lagi ke penginapan.

Karena hari itu adalah hari terakhir bagi mereka yang tidak mengikuti ujian keterampilan, sepertinya tinggal aku seorang yang ada di Malang. Sungguh naas nasibku memang. Tiada yang lain yang menemaniku meski satu malam saja, haha. Tetapi roda keberuntungan terus berputar. Aku bertemu temanku yang lain dan ternyata ia juga mengikuti tes keterampilan. Karena salah satu pilihan jurusannya adalah Pendidikan Olahraga dan Kesehatan. Wah, penyelamatan yang gemilang. Lalu aku dan temanku itu yang bernama Wisnu menuju ke kos temannya. Ternyata temannya itu orang Ponorogo juga yang kuliah di Polinema, Politeknik Negeri Malang. Aku dan Wisnu pun diperbolehkan menginap sementara di kosnya. Sungguh kebaikan hati yang tiada duanya. Aku pun serasa hidup di tengah-tengah keramaian kota yang jauh dari tempat asliku. Inikah serunya sebuah petualangan ?

Bisa jadi. Hari-hari itu pula sedang berlangsungnya piala Eropa atau bisa dikatakan EURO di wah, aku sampai lupa, haha. Lumayan seru sih, bisa nonton sepakbola disela-sela momen mendebarkan semacam SNMPTN ini. Setidaknya bisa menjadi bahan refreshing sementara. Lalu hal baru yang sangat mengesankan yang lain adalah saat teman-temannya Wisnu mengajakku juga untuk makan di Malang. Sungguh menunya mengerikan. Pokoke wenak tenan rekkk, jan ra umum2.


Setelah sedikit mendapatkan kesegaran suasana Malang, saatnya tiba untuk ujian keterampilan. Hari kamis tanggal 14 Juni 2012. Yang pasti adalah menggambar. Aku telah menyiapkan peralatan yang sekiranya akan digunakan. Dengan naik angkot, aku berangkat menuju UM. Ini adalah Universitas yang menjadi tujuan utamaku. Jurusan DKV ada di situ. Aku pun telah sampai. Aku mulai berjalan memasuki kawasan yang bagiku sangatlah asing. Aku juga melihat papan nama bertuliskan nama lengkap universitas itu. Wah, andaikata aku diterima di sini, aku akan segera memotret diriku di depan papan nama itu. Hmm, semoga saja. Lanjut dalam perjalanan menuju ruang yang ditentukan.

Tes menggambar diadakan di Fakultas Sastra kalau gx salah, aku juga sudah mulai lupa, hehehe. Makin lama aku makin kebingungan, jalan mana yang harus aku lewati ? Aku pun bertanya kepada pak satpam. Info yang aku dapat darinya tidak begitu jelas karena aku juga belum familiar dengan denah UM. Akhirnya keajaiban untuk kesekian kalinya datang mengampiriku. Ia bernama Nurhadi, seorang mahasiswa UM jurusan kalo gx salah matematika. Ia yang akhirnya mengantarkanku menuju ke ruang ujian. “Wah, terima kasih mas, kalo gx ada mas, aku pasti seperti ikan gurami di dalam lumpur. Tak tahu jalannya menuju air”. Dan sampailah aku di tempat perhelatan dahsyat yang terakhir.


Aku pun memasuki ruangan. Ternyata aku hampir terlambat. Meski begitu, ternyata ujian belum dimulai. Bersyukur aku pun bersyukur. Setelah berputar-putar tidak jelas, akhirnya sampai juga. Tes pertama dimulai. Menggambar benda dengan memanfaatkan sudut pandang menjadi santapan pertama kala itu. Bagiku itu tidak terlalu sulit. Tinggal gambar saja sesuai dengan apa yang aku lihat. Dan wauw, aku seperti selesai duluan. Tetapi aku tidak mau mengumpulkan saat itu juga. Bagiku, sebaiknya meneliti lagi jika ada yang salah. Dan waktu pun telah habis. Saatnya untuk ujian lagi. Kali ini menggambar imajinasi. Ada tiga soal di waktu itu. Pertama, kalo gx salah menggambar ekspresi beberapa orang ketika menonton bola. Kedua, menggambar fenomena pemukiman kumuh. Ketiga, menggambar gerakan beberapa penari di panggung. Awalnya aku memilih untuk mengerjakan soal nomor satu. Tetapi aku malah kesulitan mencari sudut perspektifnya. Dan penghapusku pun menjadi senjata untuk mengganti gambaran ke soal nomor dua, yaitu pemukiman kumuh. Dengan sebisaku, aku pun menggambar. Aku juga melihat orang disampingku gambarannya lumayan. Dan ada yang kelihatan tua dengan style menggambarnya sok banget. Dasar, orang seni rupa yang sok. Aku benci melihat hal itu. Haha. Tak apalah. Waktu pun telah habis lagi.

Inilah ujian ketiga. Ujian dengan waktu yang dibutuhkan tidak terlalu lama. Yaitu tes buta warna. Singkatnya aku telah selesai. Waktunya untuk menunggu tes terakhir, yaitu wawancara. Semoga pertanyaannya tidak mengerikan. Akhirnya namaku pun dipanggil. Tes wawancara ternyata terlalu mudah bagiku. Tidak terlalu sesulit yang aku bayangkan. Intinya aku malah curhat sama pengujinya. Wah, untuk kesekian kalinya Hen, kamu itu terlalu sering curhat, haha. Jam telah menunjukkan sekitar pukul 3 sore. Waktu yang lumayan lama. Aku pun pulang. Mencari angkot lagi untuk menuju ke kos temannya Wisnu tadi. Sesampainya di kos, aku pun berencana untuk pulang hari jumat pagi. Setelah memesan travel, aku pun menyiapkan barang-barang untuk aku bawa pulang. Tak lupa aku juga mengucapkan terima kasih kepada Wisnu dan teman-temannya yang sangat baik hatinya telah menerimaku di kosnya. Sungguh, pengalaman yang luar biasa.

Keesokan harinya, Jumat tanggal 15 Juni 2012, aku pulang menuju tanah kelahiran, bumi reog.
Suasana yang mengerikan di mobil yang tidak bisa dibuka jendelanya. Ditambah lagi penumpang yang sangat banyak, membuatku sangat frustasi. Dan di malam sebelumnya aku malah makan kacang rasa bawang. Membuat perutku mulai mual. Dan petir pun meledak. Hujan mulai turun, apalagi badai mulai menyerang. Wah, salah cuaca. Maksudnya aku mau bilang bahwa aku muntah. Wah, terlalu menyedihkan jika dijelaskan, eh maksudnya mengerikan, hehe. Lewat dengan rute berbeda, dan dengan waktu hanya 5 jam akhirnya aku pun telah sampai di kota reog, Ponorogo. Tepat siang hari jam 12, aku langsung menuju masjid untuk jumatan. Setelah selesai, aku pun menghubungi bapakku. Lalu aku pun pulang menuju rumah. Sepertinya aku sangat rindu sekali pada rumahku. Meski begitu, itu adalah bagian dari petualangan yang paling mengesankan bagiku.


Ending-nya. Meskipun detik-detik ujian SNMPTN telah berakhir, bagiku ada satu hal yang menarik ketika aku berada di Malang. Yaitu tentang Universitas Muhammadiyah Malang. Dilewati oleh sungai, dan juga panorama alamnya sungguh tiada duanya. Gedung-gedung yang tinggi
nan megah. Lalu betapa kerennya seluruh bagian kampusnya itu yang memang takkan terlupakan. Sampai sekarang pun, serasa aku ingin mengunjungi tempat istimewa itu lagi. Suatu hari nanti.

Siapa kira sudah ending. Haha, cerita masih berlanjut. Sekitar hampir sebulan setelah ujian SNMPTN, aku pun menunggu pengumuman. Satu hal ketika itu, aku pun mencoba browsing tentang mata kuliah DKV. Ternyata ada satu mata kuliah yang bagiku lumayan mustahil untuk aku kerjakan. Yaitu menggambar manusia secara asli. Wah, aku yang sebenarnya suka menggambar kartun disuruh menggambar manusia, mana mungkin aku mau ? Aku tidak terlalu minat menggambar manusia yang realis. Dan aku pun berdoa.

“Semoga aku tidak diterima di DKV UM, semoga aku tidak di Malang. Karena Malang itu jauh daripada Solo. Lagi pula biaya hidupnya lumayan tinggi. Dan tak lupa pula satu hal yang menjadi alasanku lagi adalah, sebenarnya ini adalah alasan yang aneh. Tetapi curhat tetaplah curhat. Wah maksa banget sih Hen, :D. Intinya air di Malang itu dingin. Bisa saja itu menghambatku dalam memulai aktivitas. Semoga saja doaku terkabulkan. Amin”.

Momen yang paling ditunggu-tunggu setelah sekian berjuang pun akhirnya datang. Tanggal 7 Juli kalau tidak salah. Pukul 19.00 pengumuman akan tertera di web resmi SNMPTN. Jam 7 malam aku berangkat menuju warnet. Karena mengingat pasti banyaknya orang yang mengaksesnya. Sebelum itu, aku minta ibuku untuk menelponku. Aku katakan pada ibuku jika saja aku tidak diterima, aku sudah tidak punya ide lagi. Ibuku hanya simple saja. Yaitu aku akan diberi modal untuk mendirikan suatu usaha, jika perlu. Tak lupa aku juga meminta doa dan restu dari ibuku semoga impianku benar-benar terwujud. Setelah itu, aku pun memberanikan diri untuk berangkat menuju warnet.

What the happen ? Ada apakah di sana ? What will i do if i failed ? Tidak. Aku takkan takut melihat kenyataan. This is a life. Ada gagal ada pula berhasil. Ahh, sudahlah. Momen-momen paling menyedihkan atau menyenangkan bisa saja terjadi. Setelah sampai, aku langsung membuka web resmi SNMPTN. Aku tulis nomor urutku. Dan loading-pun berputar-putar bagaikan roda nasib yang akan menunjukkan masa depanku. Seperti apakah hasilnya ? Sungguh tak terkira, tak terbayangkan, tak terpikirkan, tak terelakkan, tak kusangka, dan tak-tak yang lainnya, hahaha. AKU LOLOS DAN DITERIMA DI UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA.


Wah, aku sangat ingin sekali berteriak dan melompat-lompat melihat hal ini. Ingin mengocok soda dan membuka tutup botolnya seperti dalam selebrasi pemenang balapan Motto GP. Tetapi keadaannya lagi di warnet. Aku pun hanya kegirangan di dalam hati saja. Bagiku, kalau hati sudah senang, pasti raga juga akan senang. Wah, doaku benar-benar terkabulkan. Bersyukur, aku pun bersyukur. Dan UNS, aku segera datang.


Finally, perjuangan paling berkesan dalam hidupku ini telah aku lalui dengan kegemilangan. Sungguh hasil yang lumayan pantas dengan perjuanganku. Aku yakin, Tuhan selalu adil. Dan doa orang tua juga turut menjadi pengantarku menuju ke tempat yang sangat keren yang ada di Solo. Wah, rasa senang pun terasa sampai sekarang.

In the very last, ladies and gentelman. Terima kasih telah membaca sampai detik ini. Jika aku terlalu lebay dalam bercerita, biarkan sajalah. Inilah blogku, kau bisa buat blogmu sendiri dan kau tulis sesukamu. Bagiku, ini bukan tulisan resmi. Hanya curhatan belaka. Tetapi tetap bermakna. Sekiranya sampai di sini dulu ya. Sampai berjumpa lagi di lain cerita.
See you ...
Farewell ...

Henri Firmansah

NB : Keterangan.
1 : Remuk, Pekok, Lemot = Rusak, Bodoh, Lamban
2 : Pokoke wenak tenan rekkk, jan ra umum = Pokoknya enak sekali bro, wah sungguh istimewa.